PALANGKA RAYA – Anggota Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Faridawaty Daland Atjeh (FDA), menerima berbagai aspirasi dari Kelompok Bunda Sehati dalam kegiatan reses perseorangan yang dilaksanakan belum lama ini. Kelompok tersebut merupakan komunitas perempuan pencari nafkah keluarga dengan latar belakang beragam, mulai dari janda hingga perempuan dengan suami yang tidak bekerja atau tidak menafkahi.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan Kelompok Bunda Sehati, Nur selaku pimpinan komunitas, menjelaskan bahwa kelompok ini terbentuk dari kesamaan kondisi para anggotanya yang harus berjuang mandiri untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
Ia menyampaikan bahwa komunitas tersebut telah lama ingin menjalin silaturahmi dengan Faridawaty Daland Atjeh di Kantor Partai NasDem, namun baru dapat terealisasi melalui momentum reses tersebut.
“Kami sudah lama ingin bersilaturahmi dengan ibu FDA. Kelompok ini pernah mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sekitar, bahkan sempat hampir bubar, tetapi kami tetap bertahan dan saling menguatkan,” ujarnya, baru-baru ini.
Nur menjelaskan, anggota komunitas Bunda Sehati sebagian besar bekerja di sektor informal, seperti asisten rumah tangga hingga pekerja harian seperti tukang tebas rumput. Meski dengan keterbatasan ekonomi, mereka tetap berupaya mandiri dan menjaga kebersamaan dalam komunitas.
“Selama ini kami berjalan tanpa penyokong dana. Karena kondisi ekonomi yang terbatas, kami berharap melalui pertemuan ini ibu FDA dapat menjembatani kami agar komunitas ini bisa berkembang dan lebih berdaya,” katanya.
Ia juga mengungkapkan bahwa sebagian anggota komunitas masih menghadapi persoalan ekonomi serius, termasuk terlilit utang piutang yang semakin menambah beban hidup.
Selain persoalan ekonomi, Nur turut menyampaikan masalah personal yang dialami oleh salah satu anggota, yang menghadapi kondisi rumah tangga tidak harmonis. Ia menjelaskan bahwa ada anggota yang ingin menggugat cerai, namun terkendala biaya yang cukup besar.
“Ada anggota kami yang suaminya tidak mau menceraikan, tetapi juga tidak menafkahi. Untuk menggugat cerai membutuhkan biaya jutaan rupiah dan saat ini masih dalam proses. Kami berharap ada saran atau solusi terkait kondisi ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Nur juga menyampaikan harapan terkait akses pendidikan, khususnya peluang beasiswa bagi anggota maupun anak-anak mereka agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
“Kami juga berharap ada informasi dan akses terkait beasiswa, baik untuk kuliah maupun untuk mengikuti tes dengan persentase biaya tertentu, agar kami atau anak-anak kami bisa mendapatkan kesempatan pendidikan yang lebih baik,” tuturnya.
Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Faridawaty Daland Atjeh menyampaikan apresiasi atas semangat dan ketangguhan para anggota Bunda Sehati yang terus berjuang dalam keterbatasan.
Ia menegaskan bahwa pihaknya akan berupaya menjembatani kebutuhan komunitas tersebut, baik dalam hal pemberdayaan ekonomi, akses program pemerintah, maupun pendampingan sosial.
“Kami melihat semangat luar biasa dari ibu-ibu Bunda Sehati. Ini menjadi perhatian kami untuk membantu menghubungkan dengan program-program yang bisa mendukung pemberdayaan perempuan, termasuk pelatihan, bantuan usaha, dan akses lainnya,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan bahwa persoalan yang disampaikan, baik terkait ekonomi maupun persoalan personal, akan dikoordinasikan dengan pihak terkait agar dapat memperoleh solusi yang tepat.
“Kami akan berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk dinas sosial dan lembaga pendamping, agar persoalan yang dihadapi dapat ditangani secara komprehensif dan memberikan dampak nyata bagi ibu-ibu sekalian,” katanya.
Faridawaty juga mendorong agar komunitas Bunda Sehati dapat terus berkembang dan memperluas jaringan hingga ke 13 kabupaten/kota di Kalimantan Tengah, sebagaimana aspirasi yang disampaikan.
“Kami mendukung upaya pembentukan komunitas ini di seluruh kabupaten/kota di Kalteng, karena ini merupakan wadah yang sangat positif dalam memberdayakan perempuan tangguh,” ujarnya lagi.
Melalui pertemuan tersebut, diharapkan Kelompok Bunda Sehati dapat memperoleh dukungan yang dibutuhkan untuk terus berkembang, sekaligus menjadi contoh pemberdayaan perempuan berbasis komunitas di Kalimantan Tengah. (Red/Adv)










