EKONOMI & BISNISHEADLINENASIONAL

OJK Berharap Pesantren Jadi Motor Penggerak Inklusi Keuangan Syariah

23
×

OJK Berharap Pesantren Jadi Motor Penggerak Inklusi Keuangan Syariah

Sebarkan artikel ini

PALANGKARAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah mendorong penguatan ekosistem keuangan syariah di lingkungan pesantren melalui program Ekosistem Pesantren Inklusif Keuangan Syariah (EPIKS). Berkolaborasi dengan Bank Syariah Indonesia cabang Palangka Raya, OJK berupaya meningkatkan pemanfaatan produk keuangan syariah sekaligus membangun kemandirian ekonomi pesantren, Senin (17/03/2025).

Kegiatan ini juga dirangkai dengan edukasi keuangan bagi santri Pondok Pesantren Hidayatullah Palangka Raya. Santri mendapatkan pembekalan mengenai perbankan syariah, investasi halal, hingga manajemen keuangan berbasis prinsip syariah.

Kepala Bagian Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen dan Layanan Manajemen Strategis Kantor OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Andrianto Suhada, menekankan pentingnya literasi keuangan di kalangan santri. Menurutnya, berdasarkan data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024, indeks literasi keuangan syariah mencapai 39,11%, namun inklusi keuangan syariah masih rendah di angka 12,88%.

“Artinya, pemahaman masyarakat terhadap keuangan syariah sudah cukup baik, tapi masih banyak yang ragu menggunakannya. Ini yang harus kita dorong agar lebih inklusif, terutama di pesantren,” kata Andrianto.

Pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah Palangka Raya, Ustadz Usamah, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi ini. Ia berharap ekosistem keuangan syariah bisa terus berkembang di lingkungan pesantren, menciptakan sistem ekonomi yang lebih mandiri dan sesuai syariat.

Dalam kegiatan ini, santri juga dibekali materi dari Bank Syariah Indonesia dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kalimantan Tengah, membahas konsep perbankan syariah, manajemen keuangan santri, serta cara menghindari jebakan finansial seperti investasi bodong dan pinjaman ilegal.

“Kami ingin santri tidak hanya paham keuangan syariah, tapi juga bisa jadi agen perubahan yang mendorong inklusi keuangan syariah di masyarakat,” tutup Andrianto. (Red/Adv)

+ posts