PALANGKARAYA – Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Tengah mengajak masyarakat meningkatkan literasi dan sikap bijak dalam mengelola keuangan syariah. Ajakan tersebut disampaikan dalam Podcast Huma Itah bersama Radio Republik Indonesia di Kantor OJK Provinsi Kalimantan Tengah.
Indeks literasi keuangan syariah Indonesia pada 2025 mencapai 66,46 persen dan inklusi 80,51 persen. Pertumbuhan ini menunjukkan semakin luasnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menekankan pentingnya kolaborasi dalam memperkuat ekosistem.
“OJK menjalankan peran strategis sebagai regulator sekaligus koordinator dalam memperkuat ekosistem keuangan syariah melalui sinergi yang erat dengan berbagai pemangku kepentingan, penguatan literasi dan inklusi, optimalisasi peran TPAKD, serta pelaksanaan program seperti GERAK Syariah guna mendorong pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan di daerah,” ujarnya, Senin (23/02/2026).
Ia menegaskan bahwa regulator memastikan legalitas dan kepatuhan syariah produk keuangan.
“OJK memastikan setiap produk keuangan syariah telah berizin dan sesuai fatwa DSN-MUI. Selain itu, OJK juga mendorong inovasi fintech syariah melalui mekanisme regulatory sandbox dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian, serta memperluas akses pembiayaan bagi UMKM melalui kolaborasi, edukasi, dan program business matching yang terarah,” lanjutnya.
Primandanu berharap masyarakat semakin aktif dan cerdas secara finansial.
“Dengan dialog yang terbuka dan kolaboratif, kami berharap masyarakat semakin aktif, kritis, dan bijak dalam mengelola keuangan serta bersama-sama memperkuat ekosistem keuangan syariah yang inklusif dan membawa kemaslahatan bagi Kalimantan Tengah,” tandas Primandanu.
Kegiatan ini menegaskan komitmen edukasi publik dan penguatan keuangan syariah daerah. (Red/Adv)


















