PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) pada April 2026 sebesar 3,66 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,97. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya harga berbagai komoditas dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti yang diwakili oleh Statistisi Ahli Madya, M. Taufiqurrahman, menyampaikan bahwa inflasi terjadi akibat kenaikan harga yang merata di seluruh kelompok pengeluaran.
“Inflasi year-on-year April 2026 sebesar 3,66 persen terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya seluruh indeks kelompok pengeluaran, terutama pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,49 persen serta makanan, minuman, dan tembakau sebesar 5,39 persen,” ujarnya, Senin (04/05/2026) siang.
Ia menjelaskan, selain dua kelompok tersebut, beberapa kelompok lain juga turut menyumbang inflasi, di antaranya penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,19 persen, pendidikan 3,03 persen, serta transportasi sebesar 1,76 persen.
“Kelompok kesehatan mengalami inflasi sebesar 1,65 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,19 persen, serta kelompok lainnya dengan persentase yang lebih rendah namun tetap berkontribusi terhadap inflasi,” tambahnya.
Lebih lanjut, M. Taufiqurrahman menyebutkan bahwa secara bulanan (month-to-month/m-to-m), Kalimantan Tengah juga mengalami inflasi sebesar 0,41 persen. Sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) hingga April 2026 tercatat sebesar 1,81 persen.
“Perkembangan ini menunjukkan bahwa tekanan harga masih terjadi secara berkelanjutan, baik secara bulanan maupun kumulatif sepanjang tahun berjalan,” jelasnya.
Dari sisi wilayah, inflasi tertinggi tercatat di Kabupaten Kapuas sebesar 3,97 persen dengan IHK 113,92. Sebaliknya, inflasi terendah terjadi di Kabupaten Sukamara sebesar 2,81 persen dengan IHK 112,93.
“Seluruh kabupaten/kota yang menjadi sampel penghitungan IHK di Kalimantan Tengah mengalami inflasi secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan harga terjadi secara merata di berbagai wilayah,” ungkapnya.
Ia juga memaparkan sejumlah komoditas utama yang memberikan andil inflasi secara tahunan, di antaranya emas perhiasan, beras, daging ayam ras, ikan nila, minyak goreng, serta angkutan udara. Selain itu, telur ayam ras, kopi bubuk, tomat, dan bawang merah juga turut menyumbang kenaikan harga.
“Komoditas-komoditas tersebut menjadi penyumbang utama inflasi karena mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya,” katanya.
Di sisi lain, terdapat beberapa komoditas yang menahan laju inflasi atau bahkan memberikan andil deflasi, seperti bawang putih, cabai rawit, cabai merah, bayam, serta bensin.
“Pergerakan harga komoditas ini membantu menahan tekanan inflasi agar tidak lebih tinggi, meskipun secara keseluruhan tetap terjadi kenaikan harga,” lanjutnya.
M. Taufiqurrahman menambahkan bahwa dibandingkan April 2025 yang mencatat inflasi sebesar 1,21 persen, inflasi pada April 2026 menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini menandakan adanya tekanan harga yang lebih tinggi dalam satu tahun terakhir.
“Peningkatan inflasi ini perlu menjadi perhatian bersama, baik pemerintah maupun pemangku kepentingan lainnya, untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” tuturnya.
Secara keseluruhan, kondisi inflasi di Kalimantan Tengah pada April 2026 mencerminkan dinamika harga yang dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kebutuhan pokok hingga jasa. Stabilitas harga tetap menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. (Red/Adv)











