JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pengumuman Index Review Rebalancing yang dirilis MSCI Inc. menjadi momentum untuk melanjutkan reformasi dan penguatan integritas pasar modal Indonesia. OJK juga memastikan terus memantau perkembangan pasar domestik pasca-pengumuman tersebut.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme review berkala yang dilakukan berdasarkan sejumlah parameter, seperti kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, hingga dinamika harga saham.
“Perubahan komposisi indeks MSCI merupakan bagian dari mekanisme review berkala yang didasarkan pada sejumlah parameter seperti kapitalisasi pasar, free float, likuiditas, dan dinamika harga saham. Rebalancing ini tidak hanya dialami oleh Indonesia, tetapi juga hampir seluruh pasar Asia-Pasifik pada review kali ini,” ujar Friderica di Jakarta, baru-baru ini.
Ia menjelaskan, kondisi serupa juga terjadi di sejumlah negara kawasan Asia-Pasifik. Pada MSCI Global Standard Index, Jepang tercatat mengalami 14 emiten keluar dari indeks, Taiwan tujuh emiten, Malaysia enam emiten, Korea Selatan tiga emiten, bahkan Tiongkok meski menambah 22 emiten juga mengalami 24 emiten keluar.
Menurut Friderica, kondisi tersebut mencerminkan adanya penyesuaian alokasi portofolio global dan dinamika pasar yang berlangsung secara luas di berbagai negara, sehingga tidak dapat dipandang sebagai persoalan spesifik Indonesia semata.
“Kami memandang ini sebagai momentum untuk terus memperkuat integritas dan pendalaman pasar modal Indonesia. OJK bersama seluruh stakeholders akan terus mendorong penguatan market integrity, peningkatan free float dan likuiditas, perluasan basis investor, serta penguatan governance emiten agar daya saing pasar modal Indonesia semakin kuat dan berkelanjutan,” katanya.
Friderica menegaskan fundamental sektor jasa keuangan Indonesia hingga saat ini tetap resilien dan stabil. Karena itu, volatilitas jangka pendek maupun perubahan indeks global tidak akan mengubah komitmen OJK dalam mewujudkan pasar modal yang sehat, transparan, dan kredibel bagi investor domestik maupun global.
Ia juga memastikan OJK akan terus memperkuat koordinasi bersama Self-Regulatory Organizations (SRO) dan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan pasar modal Indonesia semakin atraktif, likuid, serta memiliki daya investasi jangka panjang yang kompetitif.
Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyebut hasil rebalancing MSCI sebenarnya telah diantisipasi sebelumnya oleh regulator maupun pelaku pasar.
Menurut Hasan, keluarnya sejumlah emiten Indonesia dari indeks MSCI merupakan konsekuensi jangka pendek dari proses reformasi integritas pasar modal yang selama ini dijalankan OJK bersama SRO.
“Secara struktural ini tentu akan memiliki implikasi jangka pendek berupa penurunan dan reaksi penyesuaian harga-harga saham yang terdampak. Sehingga istilah short-term pain, bahwa kita harus menghadapi tingkat penurunan di jangka pendek ini menjadi konsekuensi yang sudah kita perhitungkan dan perkirakan sejak awal,” ujar Hasan.
Ia menilai pengumuman rebalancing indeks MSCI kali ini justru menjadi momentum pembentukan basis baru pasar modal Indonesia. Ke depan, kondisi tersebut diharapkan menghadirkan kualitas saham-saham tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang semakin baik dan kompetitif sebagai pilihan investasi investor.
“Kita harapkan akan membentuk baseline baru, untuk kemudian ke depan akan semakin menghadirkan kualitas saham-saham tercatat di Bursa, dan tentu semakin banyak kita harapkan nanti saham-saham tersebut kita dorong untuk menjadi pilihan investasi para investor,” katanya.
Hasan juga optimistis pasar modal Indonesia tetap prospektif dan menarik di tengah dinamika global. Optimisme tersebut ditopang fundamental ekonomi domestik yang tetap terjaga, basis investor yang terus tumbuh, serta kinerja fundamental emiten yang masih positif.
Selain itu, pasar modal Indonesia dinilai tetap kompetitif, salah satunya terlihat dari Price-to-Earnings Ratio (PER) IHSG yang berada di level 16 kali. Tidak hanya itu, capaian pendapatan dan laba emiten pada triwulan I 2026 juga masih mencatatkan pertumbuhan positif.
Dalam menjaga stabilitas pasar, OJK bersama SRO terus berkoordinasi untuk mengambil langkah kebijakan yang diperlukan. Sejumlah kebijakan yang sebelumnya telah diterapkan juga diperpanjang, termasuk kebijakan buyback saham tanpa melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Melalui penguatan koordinasi dan sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan, OJK berharap berbagai inisiatif reformasi integritas pasar modal dapat terus diimplementasikan dan dipercepat guna memperkuat kredibilitas serta meningkatkan daya saing pasar modal Indonesia di tingkat global. (Red/Rilis OJK)











