PULANG PISAU — Petugas pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Dalkarhutla) terus melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau. Pemadaman dilakukan di tengah kondisi lahan gambut, asap pekat, serta vegetasi yang mudah terbakar dan berpotensi mempercepat penjalaran api.
“Petugas harus terus bergerak cepat ketika ditemukan kebakaran. Yang terpenting adalah mencegah api meluas dan memastikan kondisi benar-benar aman setelah pemadaman,” ucap Agustan baru-baru ini.
Kebakaran tersebut berada di lokasi kanal Tanjung Pusaka yang terhubung dengan Jalan Trans Kalimantan Palangka Raya-Banjarmasin. Penanganan dilakukan sebagai tindak lanjut atas kebakaran sebelumnya dengan melibatkan sejumlah unsur dalam upaya mengendalikan api agar tidak meluas ke kawasan sekitarnya.
“Dalam penanganan karhutla, langkah cepat dan kerja bersama menjadi kunci. Upaya ini juga merupakan bagian dari arahan Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran untuk terus memperkuat pengendalian karhutla di daerah,” kata Agustan.
Tim Dalkarhutla Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah bersama Tim Pemadaman Darat, TNI/Polri, KPH Kahayan Hilir, serta dukungan water bombing BNPB bekerja secara terpadu di lokasi. Petugas melakukan pemadaman dengan menerapkan tiga langkah utama, yakni memadamkan api, membatasi penjalaran, dan melakukan pendinginan untuk memastikan bara tidak kembali menyala.
“Kami mengapresiasi seluruh personel yang berada di lapangan. Perjuangan mereka dalam kondisi panas, asap pekat, dan medan gambut patut mendapat dukungan dari seluruh masyarakat,” ujarnya.
Dalam proses penanganan, petugas berhasil memadamkan api pada area sekitar 1,29 hektare. Untuk mendukung pemadaman, tim memanfaatkan parit yang berada di sekitar lokasi sebagai sumber air sehingga proses penyiraman dan pendinginan dapat terus dilakukan selama penanganan berlangsung.
“Ini kerja bersama. Petugas di lapangan sudah berjuang tanpa kenal lelah. Kami berharap masyarakat juga ikut menjaga lingkungan dan segera melaporkan jika melihat asap atau titik api,” tutur Agustan.
Kondisi lahan gambut dan vegetasi berupa semak belukar, pakis-pakisan, ilalang, purun danau, serta berbagai jenis pepohonan menjadi tantangan bagi petugas. Asap yang sangat pekat juga membatasi jarak pandang di lapangan, tetapi tim tetap bertahan hingga seluruh rangkaian pemadaman selesai pada pukul 17.24 WIB.
“Perjuangan di lapangan mungkin tidak selalu terlihat. Namun, setiap langkah petugas memadamkan api adalah upaya menjaga udara tetap bersih, lingkungan tetap aman, dan aktivitas masyarakat tetap berjalan. Tanpa kenal lelah, mereka terus berada di garis depan untuk Kalteng,” tandas Agustan. (Red/Adv)



















