PALANGKA RAYA – Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah (Dishut Kalteng) kembali melakukan penanganan cepat terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan Lapangan Sanaman Mantikei, Kelurahan Langkau, Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya.
Kebakaran tersebut diketahui setelah adanya laporan masyarakat yang disampaikan melalui WhatsApp. Informasi itu langsung ditindaklanjuti personel Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dishut Kalteng dengan mengerahkan tim ke lokasi untuk melakukan pemadaman dan mencegah api menjalar ke area lainnya.
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran melalui Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalteng Agustan Saining mengatakan, respons cepat menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla, terlebih kebakaran terjadi pada kawasan dengan kondisi lahan yang berpotensi mempercepat penjalaran api. “Di lokasi, petugas mendapati kondisi lahan berupa bekas tebasan dengan tumpukan kayu. Kondisi tersebut membuat penjalaran api berlangsung cukup cepat. Selain itu, jenis tanah di lokasi merupakan gambut sehingga penanganan membutuhkan pemadaman dan pendinginan secara menyeluruh,” ucapnya baru-baru ini.
Untuk mendukung proses pemadaman, petugas mengerahkan satu unit mobil tangki PTO berkapasitas 4.000 liter. Kendaraan tersebut digunakan sebagai sumber pasokan air mengingat kondisi di sekitar lokasi tidak memiliki sumber air yang memadai.
“Petugas melakukan penyemprotan untuk memutus penjalaran api, dilanjutkan dengan pendinginan pada area yang telah terbakar,” tambahnya.
Berdasarkan hasil penanganan di lapangan, luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan sekitar 0,09 hektare. Tim melakukan pemadaman secara menyeluruh hingga seluruh area yang terbakar berhasil dikendalikan dan dinyatakan padam total.
“Penanganan dilakukan dengan pemadaman, pembatasan penjalaran api, kemudian dilanjutkan pendinginan untuk memastikan tidak ada lagi titik api yang berpotensi menyala kembali,” lanjutnya.
Proses penanganan karhutla tersebut berlangsung hingga pukul 12.20 WIB. Dalam pelaksanaannya, petugas menghadapi kendala berupa minimnya sumber air di sekitar lokasi, sehingga kebutuhan air selama pemadaman harus mengandalkan mobil tangki PTO berkapasitas 4.000 liter.
Kondisi lahan berupa gambut serta keberadaan tumpukan kayu bekas tebasan menjadi perhatian petugas selama proses pemadaman. Material tersebut berpotensi mempertahankan bara sehingga pendinginan dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan api tidak kembali muncul.
Petugas juga memastikan area sekitar titik kebakaran tidak kembali mengalami penjalaran api setelah proses pemadaman selesai. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya mengantisipasi munculnya titik panas baru di sekitar lahan yang telah terbakar.
Dishut Kalteng mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan keberadaan asap maupun titik api di lingkungan sekitar. Informasi dari masyarakat dinilai menjadi salah satu sumber awal yang membantu petugas mengetahui lokasi kebakaran secara lebih cepat.
“Dishut Kalteng mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan titik api atau asap di sekitar lingkungan. Laporan lebih awal dinilai sangat membantu petugas melakukan penanganan sebelum api meluas,” ungkap Agustan. (Red/Adv)



















