Desa Inklusif dan UMKM Berdaya

Salah satu capaian yang menonjol di Kalteng adalah pembentukan Desa Inklusif Keuangan di Sukamara, hasil kolaborasi OJK, pemerintah daerah, dan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD). Di desa ini, masyarakat mulai terhubung dengan lembaga keuangan formal, memanfaatkan layanan digital, serta mendapatkan pendampingan dalam mengelola usaha mikro dan kecil.
Di Kabupaten Seruyan, OJK juga aktif mendorong literasi keuangan syariah untuk UMKM, membantu pelaku usaha memahami pembiayaan syariah yang transparan dan sesuai prinsip keadilan. Program ini membuka jalan bagi UMKM lokal untuk mengakses modal usaha yang sebelumnya sulit dijangkau.
“Dulu kami pikir urusan keuangan itu rumit. Sekarang kami tahu cara menabung, mengatur usaha, bahkan mencari modal tanpa riba,” ujar seorang pelaku UMKM di Desa Sungai Bundung dengan senyum lebar — mungkin lebih lebar dari margin usaha yang baru naik.
Tantangan dan Arah ke Depan
Meski capaian OJK di 2025 patut diapresiasi, tantangan masih membentang. Akses internet yang belum merata, rendahnya pemahaman digital di beberapa daerah, serta keterbatasan infrastruktur menjadi penghambat utama pemerataan literasi dan inklusi keuangan.
Untuk itu, OJK berkomitmen melanjutkan strategi “last mile approach”, yakni memperkuat akses hingga lapisan paling bawah masyarakat dengan kombinasi edukasi tatap muka dan teknologi digital. Kolaborasi lintas sektor — antara pemerintah, perbankan, fintech, dan lembaga pendidikan — akan terus ditingkatkan agar setiap warga, di mana pun berada, punya akses adil terhadap layanan keuangan formal.
Menatap 2026: Dari Program ke Ekosistem
Capaian 2025 memberi sinyal bahwa literasi dan inklusi keuangan di Indonesia, termasuk di Kalimantan Tengah, mulai bertransformasi dari sekadar “program tahunan” menjadi ekosistem keberlanjutan. Kesadaran masyarakat meningkat, lembaga keuangan lebih terbuka, dan sinergi antarinstansi kian solid.
Jika tren ini berlanjut, bukan mustahil dalam beberapa tahun ke depan masyarakat Kalteng bukan hanya melek finansial, tapi juga mampu mengelola uangnya dengan bijak — tak lagi terjebak pinjaman ilegal atau investasi abal-abal. Karena pada akhirnya, seperti kata pepatah modern: “Uang memang bukan segalanya, tapi literasi keuangan bisa bikin hidup lebih tenang.”


















