PALANGKA RAYA – DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menyoroti pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD dr Doris Sylvanus yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan akibat tingginya jumlah pasien yang datang untuk mendapatkan penanganan medis. Keterbatasan kapasitas ruang dan fasilitas yang tersedia disebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi optimalisasi pelayanan kesehatan di rumah sakit tersebut.
Sebagai rumah sakit rujukan utama di Kalimantan Tengah, RSUD dr Doris Sylvanus memiliki peran penting dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat dari berbagai kabupaten dan kota. Namun, tingginya angka kunjungan pasien dinilai turut meningkatkan beban pelayanan yang harus ditangani setiap harinya.
Kondisi tersebut menyebabkan waktu tunggu pasien untuk mendapatkan pelayanan medis menjadi lebih panjang, terutama ketika terjadi lonjakan jumlah pasien dalam waktu tertentu.
Selain itu, keterbatasan ruang yang tersedia juga berdampak terhadap kenyamanan pelayanan. Dalam beberapa situasi, pasien terpaksa menunggu di area yang dinilai belum sepenuhnya representatif akibat keterbatasan kapasitas ruangan yang ada.
Wakil Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Tommy Irawan, mengatakan persoalan tersebut bukan merupakan hal baru dan telah beberapa kali menjadi pembahasan bersama pihak terkait melalui rapat dengar pendapat.
Menurutnya, persoalan pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan kapasitas rumah sakit memerlukan langkah yang lebih terukur agar pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih baik.
“Masalah ini bukan hal baru, sudah sering kami bahas. Perlu ada langkah nyata agar pelayanan, khususnya di IGD, bisa lebih maksimal,” ujarnya, baru-baru ini.
Tommy menjelaskan, tingginya jumlah pasien yang datang ke RSUD Doris Sylvanus dipengaruhi oleh banyaknya rujukan dari berbagai daerah di Kalimantan Tengah. Kondisi tersebut secara langsung berdampak terhadap tingkat pelayanan rumah sakit sebagai pusat rujukan kesehatan utama di provinsi tersebut.
Menurutnya, peningkatan jumlah pasien seharusnya diimbangi dengan peningkatan kapasitas layanan, baik dari sisi sarana maupun sumber daya manusia yang mendukung pelayanan kesehatan.
Ia menilai kebutuhan terhadap penambahan fasilitas dan tenaga medis menjadi bagian penting agar pelayanan rumah sakit mampu mengikuti peningkatan kebutuhan masyarakat.
Tommy mengakui manajemen rumah sakit telah melakukan sejumlah upaya pembenahan untuk meningkatkan kualitas pelayanan. Namun demikian, upaya tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu mengatasi peningkatan jumlah pasien yang terus terjadi.
Menurutnya, tantangan terbesar muncul ketika rumah sakit menghadapi lonjakan pasien dalam jumlah besar yang menyebabkan kapasitas pelayanan tidak lagi sebanding dengan kebutuhan di lapangan.
“Ketika pasien tidak terlalu banyak, pelayanan masih bisa berjalan dengan baik. Tapi saat terjadi lonjakan, kapasitas yang ada tidak mencukupi. Ini yang harus segera dicarikan solusi,” jelasnya.
DPRD Kalteng pun mendorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah agar mempercepat upaya peningkatan pelayanan kesehatan, termasuk melalui penambahan fasilitas penunjang dan penguatan tenaga medis di RSUD dr Doris Sylvanus.
Selain peningkatan kapasitas rumah sakit utama, sinergi antar rumah sakit di Kota Palangka Raya juga dinilai perlu diperkuat agar distribusi pasien dapat lebih merata dan tidak terpusat pada satu fasilitas pelayanan kesehatan.
Menurut Tommy, pengembangan rumah sakit baru serta optimalisasi layanan di RS Kalawa Atei dapat menjadi bagian dari solusi jangka panjang untuk mengurangi beban pelayanan yang selama ini terjadi di RSUD Doris Sylvanus.
Melalui penguatan fasilitas, peningkatan kapasitas tenaga medis, serta pemerataan layanan kesehatan, diharapkan pelayanan rumah sakit di Kalimantan Tengah dapat semakin optimal sehingga masyarakat memperoleh akses kesehatan yang lebih cepat, nyaman, dan berkualitas. (Red/ADV)











