PALANGKA RAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah di lingkungan pendidikan melalui Kick Off Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 yang dirangkaikan dengan Launching Program Ekosistem Pusat Inklusif Keuangan Syariah (EPIKS) di Aula Hasanka Boarding School, Palangka Raya. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya membangun pemahaman keuangan syariah sejak dini agar pelajar mampu mengelola keuangan secara aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri atas pelajar jenjang SD, SMP, SMA, serta guru dan pegawai sekolah. Selain edukasi keuangan syariah, kegiatan juga disertai penyerahan simbolis kartu digital pelajar yang diharapkan dapat membantu mempermudah transaksi keuangan di lingkungan pendidikan sekaligus mengenalkan pengelolaan keuangan modern kepada peserta didik.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menegaskan bahwa peningkatan literasi keuangan syariah di kalangan pelajar menjadi langkah penting mengingat akses terhadap layanan keuangan saat ini relatif tinggi, tetapi belum sepenuhnya diimbangi pemahaman yang memadai terkait pengelolaan dan pemanfaatannya.
“Lebih dari sekadar alat pembayaran, kartu digital pelajar menjadi bagian penting dalam penguatan ekosistem keuangan syariah di pesantren. Melalui kartu digital pelajar, siswa-siswi dapat belajar mengenal pengelolaan keuangan secara modern dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian, kedisiplinan, dan tanggung jawab,” ujarnya, baru-baru ini.
Primandanu menjelaskan, penguatan literasi dan inklusi keuangan syariah perlu terus dilakukan karena pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan syariah masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan data literasi dan inklusi keuangan tahun 2025, indeks literasi keuangan nasional tercatat sebesar 66,46 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan nasional mencapai 80,51 persen.
Sementara itu, indeks literasi keuangan syariah berada pada angka 43,42 persen dan indeks inklusi keuangan syariah sebesar 13,41 persen. Pada segmen pelajar dan mahasiswa, indeks literasi keuangan tercatat 61,76 persen, sedangkan indeks inklusi keuangan mencapai 84,42 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa akses layanan keuangan sudah relatif tinggi, namun edukasi berkelanjutan tetap diperlukan agar penggunaan produk dan layanan jasa keuangan berlangsung secara aman dan bertanggung jawab.
Menurut Primandanu, pelajar perlu dibekali kemampuan memahami manfaat, risiko, dan tanggung jawab dalam penggunaan layanan keuangan agar tidak sekadar menjadi pengguna, tetapi juga mampu mengelola keuangan secara sehat sejak dini. Oleh sebab itu, OJK bersama pemangku kepentingan terus memperluas edukasi keuangan, khususnya di lingkungan sekolah dan pesantren.
Ketua Yayasan Hasanka Palangka Raya, Dr. H. M. Yamin Mukhtar, Lc., M.Pd.I, menyampaikan apresiasi terhadap kolaborasi OJK Provinsi Kalimantan Tengah bersama lembaga jasa keuangan syariah yang turut membangun lingkungan pendidikan berbasis tata kelola keuangan yang baik. Menurutnya, penguatan literasi keuangan bukan hanya penting bagi pelajar, tetapi juga bagi guru dan orang tua.
“Program EPIKS ini menjadi langkah penting dalam memperkenalkan pengelolaan keuangan sejak dini melalui prinsip 3K, yaitu keamanan, kenyamanan, dan keuntungan. Keamanan dimaknai sebagai upaya meminimalkan risiko kehilangan atau penyalahgunaan uang, kenyamanan sebagai kemudahan bagi pelajar dan orang tua dalam melakukan transaksi, serta keuntungan sebagai manfaat nyata yang dapat dirasakan oleh seluruh pihak melalui pengelolaan keuangan yang baik,” kata M. Yamin.
Ia berharap sinergi antara Hasanka Boarding School, OJK, dan lembaga jasa keuangan syariah terus diperkuat sehingga tidak hanya memperluas akses literasi dan inklusi keuangan syariah, tetapi juga membangun lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, bermanfaat, dan mendukung tata kelola pendidikan berkelanjutan.
Pemimpin Cabang Bank Syariah Indonesia KCP Palangka Raya 1, Muhamad Denny Ramadhan, menegaskan komitmen pihaknya mendukung perluasan literasi dan inklusi keuangan syariah melalui penguatan ekosistem layanan keuangan di lingkungan pendidikan. Menurutnya, perbankan syariah hadir bukan hanya memberikan kemudahan transaksi, tetapi juga memastikan layanan berjalan sesuai prinsip syariah, transparan, dan memberi manfaat sosial bagi masyarakat.
“Kami berharap Program EPIKS di Hasanka Boarding School menjadi langkah strategis dalam memperkenalkan layanan keuangan syariah secara lebih masif kepada pelajar, guru, dan orang tua,” ujar Denny.
Melalui Kick Off Bulan Literasi Keuangan Tahun 2026 dan Program EPIKS tersebut, OJK bersama pemangku kepentingan berharap pemahaman pelajar terhadap pengelolaan keuangan syariah terus meningkat, sehingga lahir generasi yang tidak hanya memahami akses keuangan, tetapi juga mampu menggunakannya secara bijak, disiplin, dan bertanggung jawab. (Red/ADV)











