PALANGKA RAYA – Sistem pendidikan di Kalteng dinilai masih perlu ditransformasikan agar lebih selaras dengan kebutuhan masyarakat dan karakteristik daerah.
Selama ini, pola pembelajaran dinilai masih berorientasi pada capaian akademik semata, sehingga belum sepenuhnya menyentuh aspek kehidupan nyata di tengah masyarakat.
Anggota Komisi III DPRD Kalteng Faridawaty Darland Atjeh menyampaikan, tantangan pendidikan di Kalteng tidak hanya berkutat pada keterbatasan infrastruktur dan akses, tetapi juga menyangkut arah kebijakan pendidikan yang perlu disesuaikan dengan kondisi geografis serta sosial budaya daerah.
Menurutnya, pendekatan pendidikan yang kontekstual menjadi penting mengingat Kalteng memiliki wilayah yang luas dengan keberagaman budaya yang tinggi.
Hal tersebut dinilai sebagai potensi yang dapat diintegrasikan dalam proses pembelajaran guna membentuk karakter generasi muda.
“Pendidikan harus mampu menyesuaikan dengan kondisi daerah. Tidak hanya fokus pada teori, tetapi juga memberikan pemahaman yang relevan dengan kehidupan sehari-hari dan budaya masyarakat,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Ia menambahkan, perkembangan teknologi dan arus digitalisasi yang semakin pesat turut membawa perubahan besar, terutama bagi generasi muda.
Oleh karena itu, pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi sarana transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis serta karakter yang kuat.
Faridawaty menilai, keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan, keterampilan praktis, dan nilai-nilai budaya lokal merupakan kunci dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing.
Selain itu, ia menekankan pentingnya peran bersama antara Pemprov, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat dalam mendukung peningkatan kualitas pendidikan secara merata.
Sinergi tersebut dinilai dapat mempercepat terwujudnya sistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan di seluruh wilayah Kalteng.
Ke depan, ia berharap pendidikan di Kalteng mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kemandirian, serta pemahaman kuat terhadap budaya dan lingkungan sebagai bagian dari identitas daerah. (adv)











