EKONOMI & BISNISHEADLINENASIONAL

Budaya Menabung Diperkuat, OJK Sasar Generasi Muda

15
×

Budaya Menabung Diperkuat, OJK Sasar Generasi Muda

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi

PALANGKARAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama kementerian/lembaga, industri jasa keuangan, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan terkait terus memperkuat budaya menabung dan meningkatkan literasi serta inklusi keuangan masyarakat, khususnya generasi muda, sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian finansial dan kesejahteraan masyarakat. Penguatan tersebut dilakukan melalui rangkaian Hari Indonesia Menabung (HIM) dan Bulan Literasi Keuangan (BLK) 2026 yang mengusung tema “Merajut Masa Depan melalui Literasi dan Inklusi Keuangan”.

“Menabung sejak dini sangat penting untuk masa depan kalian. Menabung itu jangan menunggu uang kita banyak dulu. Justru supaya uangnya banyak, kita harus menabung sedikit demi sedikit. Jadi, kita harus membiasakan diri menabung sejak dini,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, baru-baru ini.

Puncak kegiatan HIM dan BLK 2026 digelar di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 13 Bekasi dan diikuti lebih dari 1.100 peserta yang terdiri atas pelajar dan mahasiswa. Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat pemerintah, perwakilan lembaga negara, pemerintah daerah, pimpinan industri jasa keuangan, serta pemangku kepentingan lainnya sebagai bentuk kolaborasi dalam memperluas akses dan edukasi keuangan bagi masyarakat.

“OJK bersama dengan seluruh kementerian lembaga, memiliki komitmen untuk meningkatkan literasi dan inklusi anak-anak di Indonesia,” ujar Friderica.

Secara nasional, tingkat literasi dan inklusi keuangan masing-masing telah mencapai 69,57 persen dan 93,61 persen. Meskipun telah melampaui target, capaian pada segmen pelajar dan mahasiswa masih berada di bawah tingkat nasional sehingga membutuhkan penguatan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Salah satu upaya yang terus dilakukan ialah melalui Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) untuk memperluas kepemilikan rekening sekaligus membangun kebiasaan menabung sejak dini.

Baca Juga  Polusi Udara Jadi Sorotan Serius Dunia Akademik

“Tujuan peningkatan literasi dan inklusi keuangan yang dilakukan OJK adalah membangun karakter pribadi yang disiplin, sabar, mampu mengendalikan diri, dan mampu mengelola keuangan sehingga dapat terhindar dari kebiasaan FOMO dan FOPO di tengah perkembangan ekonomi dan keuangan digital,” kata Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono.

Melalui Program KEJAR, sepanjang September 2025 hingga Juni 2026 telah dibuka sebanyak 679.000 rekening pelajar baru. Selain itu, lebih dari 270.000 kegiatan Bank Goes to School telah dilaksanakan di 122 ribu sekolah, sedangkan kegiatan sosialisasi dan edukasi telah menjangkau lebih dari 16.000 pelajar di 40 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Pada 2026, Sekolah Rakyat turut menjadi sasaran utama karena peserta didiknya yang berasal dari keluarga prasejahtera dinilai menjadi segmen penting dalam perluasan akses dan edukasi keuangan.

Baca Juga  Kadisdik Kalteng Definitif Reza Prabowo Prioritaskan Revitalisasi Sekolah dan SDM Berdaya Saing Global

“Menabung harus dimaknai sebagai kebiasaan menyisihkan uang, bukan sekadar menyisakan uang. Kebiasaan tersebut memberikan ruang yang lebih besar bagi seseorang untuk merencanakan masa depan, memenuhi kebutuhan, membantu orang lain, serta berkontribusi terhadap perekonomian nasional,” ujar Dicky.

Dari sisi literasi keuangan, OJK juga mengorkestrasikan berbagai program edukasi melalui Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN). Hingga Agustus 2026, OJK telah melaksanakan 3.557 kegiatan edukasi keuangan dengan jangkauan 12,2 juta peserta. Melalui sinergi GENCARKAN, tercatat 18.308 kegiatan edukasi langsung yang menjangkau 3,2 juta peserta serta 22.797 kegiatan edukasi digital dengan jangkauan 167,8 juta peserta.

“Sinergi OJK bersama Pemerintah, Industri Jasa Keuangan, Pemerintah Daerah, satuan pendidikan, serta seluruh pemangku kepentingan akan terus diperkuat untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang semakin terliterasi, inklusif, berdaya, dan sejahtera secara finansial menuju Indonesia Emas 2045,” tandas Friderica. (Red/Adv)

Facebook Comments Box
+ posts