AKADEMIKAHEADLINEPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Kearifan Lokal Jadi Jalan Prestasi, Enam Murid SMAN 2 Palangka Raya Raih Medali Perak Internasional

10
×

Kearifan Lokal Jadi Jalan Prestasi, Enam Murid SMAN 2 Palangka Raya Raih Medali Perak Internasional

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA – Kearifan lokal tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, tetapi juga dapat berkembang menjadi gagasan ilmiah yang membawa prestasi ke tingkat internasional.

Hal itu dibuktikan enam murid SMAN 2 Palangka Raya melalui penelitian mengenai potensi daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) sebagai bahan alami untuk membantu penanganan demam.

Raisya Arina Zaidan bersama Cut Nadia Putri Raya, Vania Cassandra Joycelin, Riris Esther Sitorus, Yasmine Batrisya Agata, dan Gilang Natanael Tanggara berhasil membawa penelitian mereka meraih Silver Medal atau Medali Perak pada 8th International Science and Invention Fair (ISIF) 2026.

Kompetisi berlangsung di Balai Purnomo Prawiro, Universitas Indonesia, Depok, pada 12-1h 7 Oktober 2026. Keenam murid itu hadir dengan penelitian berjudul From Local Wisdom to Scientific Evidence: Validation of Hibiscus rosa-sinensis as a Natural First-Aid Treatment for Fever.

Gagasan penelitian berawal dari tanaman kembang sepatu yang dikenal dan tumbuh di lingkungan masyarakat. Pengetahuan tradisional mengenai pemanfaatan tanaman itu kemudian menjadi dasar bagi para murid untuk melakukan kajian dengan pendekatan ilmiah.

Mereka mengembangkan penelitian dengan mengkaji potensi daun kembang sepatu sebagai kompres untuk membantu penanganan demam. Gagasan dari lingkungan sekitar itu kemudian dibawa ke ajang ilmiah dan dipresentasikan di hadapan dewan juri internasional.

Raisya Arina Zaidan mengatakan, mengikuti ISIF 2026 menjadi pengalaman penting bagi dirinya dan rekan-rekan satu tim. Selain mempresentasikan penelitian, mereka harus mampu menjelaskan proses dan metode yang digunakan serta menjawab pertanyaan dari para juri.

“Dalam kompetisi ini, saya bersama tim membawa penelitian tentang pemanfaatan daun kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis) sebagai kompres untuk membantu penanganan demam. Penelitian ini berangkat dari pengetahuan tradisional yang ada di masyarakat, kemudian kami coba kaji melalui pendekatan ilmiah untuk melihat potensinya lebih lanjut,” ungkap Raisya.

Baca Juga  Fraksi PKB DPRD Katingan Setujui LPj APBD 2024

Medali Perak yang diraih menjadi buah dari proses penelitian sekaligus pembelajaran bagi para murid.

Raisya mengaku bersyukur karena kesempatan mengikuti kompetisi internasional membuatnya memperoleh pengalaman baru dan memperluas wawasan dalam bidang penelitian.

“Puji syukur, penelitian yang kami bawakan berhasil meraih Silver Medal. Tentunya ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya, karena bisa belajar banyak hal baru sekaligus membawa nama Kalteng di tingkat internasional,” tuturnya.

Prestasi itu juga mendorong Raisya untuk terus mengembangkan kemampuan dan keberanian dalam menghasilkan karya.

Ia ingin pengalaman yang diperoleh dari kompetisi dapat menjadi motivasi bagi pelajar lain untuk melihat potensi yang ada di sekitar mereka.

“Saya berharap karya ini bisa mendorong generasi muda untuk lebih peduli terhadap pengetahuan lokal dan berani mengembangkannya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat. Pencapaian ini juga menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar, berkarya, dan mencoba hal-hal baru ke depannya. Semoga saya bisa terus membawa nama Kalteng ke tingkat yang lebih luas,” tambahnya.

Keberhasilan membawa penelitian kembang sepatu ke ajang internasional juga menjadi pengalaman dalam memperkenalkan potensi daerah melalui jalur pendidikan dan penelitian. Apa yang awalnya berasal dari tanaman yang mudah dijumpai di lingkungan masyarakat berkembang menjadi topik kajian yang dipresentasikan dalam kompetisi ilmiah internasional.

Baca Juga  Bupati Eddy Raya Resmikan Kejuaraan Mini Soccer Bupati Cup

Perjalanan Raisya dalam kegiatan ilmiah tidak berhenti pada ISIF 2026. Sebelumnya, ia terlibat dalam Bali International Science Fair (BISF) 2026 di Denpasar, Bali.

Dalam kegiatan itu, Raisya bersama murid SMAN 2 Palangka Raya lainnya mendapat kesempatan tampil pada seremoni pembukaan dengan membawakan Tari Bahalai. Penampilan itu menjadi bagian dari kesempatan memperkenalkan salah satu kesenian yang merepresentasikan kekayaan budaya Kalteng kepada peserta kegiatan.

Raisya juga menjadi bagian dari tim penelitian berjudul Is Life After Graduate Phenomenon Real for High School Student. Keterlibatan dalam penelitian dan kegiatan kebudayaan membuat pengalaman yang diperolehnya semakin beragam, tidak hanya dalam mengembangkan kemampuan akademik, tetapi juga dalam membawa unsur lokal ke forum di luar daerah.

Capaian enam murid SMAN 2 Palangka Raya itu menjadi gambaran bahwa ide penelitian dapat berangkat dari hal sederhana di sekitar lingkungan. Dengan proses pengembangan dan pendekatan ilmiah, kearifan lokal dapat menjadi sumber gagasan bagi pelajar untuk menghasilkan karya sekaligus memperkenalkan potensi daerah pada tingkat yang lebih luas. (adv)

Facebook Comments Box
+ posts