AKADEMIKAHEADLINENASIONAL

Mahasiswa Dibekali Pemahaman Risiko dan Prospek Pembiayaan Digital

10
×

Mahasiswa Dibekali Pemahaman Risiko dan Prospek Pembiayaan Digital

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Suasana kuliah umum OJK Mengajar di Indonesia Banking School (IBS), Jakarta, yang membahas manfaat, risiko, dan prospek pembiayaan digital sebagai upaya meningkatkan literasi keuangan generasi muda.

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan di kalangan generasi muda melalui edukasi mengenai manfaat, risiko, serta prospek pembiayaan digital. Upaya tersebut dilakukan untuk mendorong pemanfaatan layanan keuangan secara bertanggung jawab seiring semakin pesatnya transformasi digital di sektor jasa keuangan.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah proses pembiayaan menjadi lebih cepat, mudah, dan inklusif. “Pembiayaan digital memungkinkan proses yang sebelumnya membutuhkan waktu berbulan-bulan menjadi hitungan detik melalui pemanfaatan teknologi, artificial intelligence, dan machine learning dalam analisis kelayakan pembiayaan,” ujarnya, baru-baru ini.

Kuliah umum bertema “Pembiayaan Digital: Manfaat, Risiko dan Prospek” yang digelar di Indonesia Banking School (IBS), Jakarta, menjadi bagian dari program OJK Mengajar untuk memperluas pemahaman civitas akademika mengenai perkembangan sektor jasa keuangan sekaligus membangun budaya pemanfaatan layanan keuangan yang bijak.

Menurut Agusman, kemudahan mengakses pembiayaan digital harus selalu diimbangi dengan kemampuan masyarakat memahami risiko serta mengelola keuangan secara bertanggung jawab. “Kemudahan akses pembiayaan digital harus diimbangi dengan literasi yang memadai, pemahaman risiko, serta kemampuan memenuhi kewajiban agar manfaat teknologi keuangan dapat dirasakan secara optimal dan berkelanjutan,” katanya.

Baca Juga  Dialog Gubernur Agustiar Sabran dan Wartawan, Bangun Sinergi Positif Lewat Komunikasi Terbuka

Ia menjelaskan, pembiayaan digital memiliki peran penting dalam memperluas akses keuangan masyarakat, terutama bagi kelompok yang belum sepenuhnya terjangkau layanan keuangan konvensional. Kehadiran teknologi dinilai mampu membuka peluang pendanaan bagi masyarakat maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

“Ketika akses keuangan konvensional sulit menjangkau seluruh lapisan masyarakat, pembiayaan digital hadir untuk memperluas akses keuangan, sepanjang tersedia konektivitas dan infrastruktur digital,” jelas Agusman.

Perkembangan industri pembiayaan digital di Indonesia juga terus menunjukkan tren positif. Hingga Agustus 2026, nilai baki debet layanan Buy Now Pay Later (BNPL) yang disalurkan perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,61 triliun atau tumbuh 36,57 persen secara tahunan dengan total 27,71 juta rekening. Sementara outstanding pembiayaan pinjaman daring meningkat menjadi Rp106,94 triliun atau naik 22,07 persen secara tahunan dengan jumlah pengguna mencapai 189,77 juta akun.

Agusman menegaskan pertumbuhan industri pembiayaan digital harus berjalan beriringan dengan tata kelola yang baik dan pelindungan konsumen yang kuat. “OJK akan terus memperkuat kebijakan dan pengawasan guna mendorong industri yang sehat, inovatif, dan berkelanjutan, sekaligus memitigasi berbagai risiko seperti penyalahgunaan data pribadi, penipuan, dan risiko terhadap konsumen,” tegasnya.

Baca Juga  Reses DPRD Kalteng di DAS Barito, Warga Desak Kepastian Status Lahan Eks PTPN

Ketua Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI), Priyanto Budi Nugroho, mengapresiasi penyelenggaraan kuliah umum tersebut karena dinilai mampu meningkatkan literasi mahasiswa mengenai perkembangan pembiayaan digital beserta risiko yang menyertainya. “Di era digital, pemanfaatan inovasi tidak hanya untuk memperoleh pertumbuhan dan keuntungan, tetapi juga harus diimbangi dengan manajemen risiko dan tanggung jawab. Ketiganya merupakan satu paket yang tidak dapat dipisahkan,” ujarnya.

Kegiatan yang diikuti 137 mahasiswa dan 15 dosen Indonesia Banking School tersebut juga dihadiri Deputi Komisioner Pengawas PVML OJK Sri Kurniati serta jajaran pimpinan IBS. Melalui program OJK Mengajar, OJK berkomitmen meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap sektor jasa keuangan agar mampu memanfaatkan layanan keuangan secara bijak, memahami berbagai risikonya, serta berkontribusi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. (Red/Adv)

Facebook Comments Box
+ posts