BANDAR LAMPUNG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat fondasi investor domestik melalui peningkatan literasi dan inklusi keuangan di sektor pasar modal. Upaya tersebut difokuskan pada generasi muda yang dinilai memiliki peran besar dalam menentukan arah perkembangan pasar modal Indonesia di masa mendatang.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi saat memberikan Kuliah Umum dalam rangkaian Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026 di Universitas Malahayati, Bandar Lampung yang berlangsung pada 18–19 Mei 2026.
Dalam kegiatan itu, Hasan menyampaikan bahwa komposisi investor pasar modal nasional saat ini menunjukkan dominasi kelompok usia muda. Kondisi tersebut dinilai menjadi sinyal positif terhadap masa depan pasar modal nasional karena keterlibatan generasi muda semakin meningkat.
“Yang paling menggembirakan, mayoritas investor tersebut berasal dari kelompok usia muda. Tidak kurang dari 54 persen investor pasar modal Indonesia berusia di bawah 30 tahun. Artinya generasi muda akan menjadi penggerak utama pasar modal Indonesia sekarang dan di masa depan,” ujarnya, baru-baru ini.
Hasan menjelaskan, perkembangan jumlah investor pasar modal di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan. Hingga 5 Mei 2026, jumlah investor pasar modal nasional tercatat mencapai sekitar 26,7 juta investor.
Sementara itu, Provinsi Lampung juga menunjukkan perkembangan yang cukup baik dalam partisipasi masyarakat pada pasar modal. Tercatat, jumlah investor pasar modal di Lampung mencapai sekitar 614 ribu investor dan menempatkan provinsi tersebut pada posisi kesembilan secara nasional.
Menurut Hasan, peningkatan jumlah investor harus dibarengi dengan penguatan pemahaman masyarakat mengenai investasi yang sehat. Apalagi perkembangan teknologi digital dan perubahan dinamika ekonomi global saat ini membuat masyarakat semakin mudah mengakses berbagai produk investasi.
Ia menilai, kemudahan akses tersebut harus diimbangi kemampuan masyarakat dalam memahami risiko, manfaat, serta mekanisme investasi agar setiap keputusan keuangan dapat dilakukan secara bijak dan bertanggung jawab.
Meski demikian, Hasan mengungkapkan bahwa tingkat literasi pasar modal nasional masih memerlukan perhatian bersama. Berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025, tingkat literasi pasar modal Indonesia baru mencapai angka 17,78 persen.
“Nah tentu ini menjadi PR bersama, karena tingkat literasi yang masih terbatas dapat dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menawarkan investasi bodong maupun melakukan penipuan,” katanya.
Ia menambahkan, perkembangan teknologi juga memunculkan berbagai modus kejahatan keuangan digital yang saat ini semakin beragam. Masyarakat, khususnya generasi muda, diminta lebih teliti sebelum mengambil keputusan investasi agar tidak terjebak dalam praktik ilegal yang merugikan.
“Kalau ada tawaran investasi, periksa dulu legal atau tidak. Apakah pihak yang menawarkan memiliki izin dan produknya terdaftar di OJK atau otoritas terkait. Kemudian lihat juga logis atau tidak. Jika imbal hasil terlalu tinggi dan tidak masuk akal, maka harus waspada,” tegas Hasan.
Pada kesempatan yang sama, Asisten Bidang Administrasi Umum Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Sulpakar yang mewakili Gubernur Lampung memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan edukasi pasar modal tersebut. Menurutnya, langkah OJK bersama Universitas Malahayati menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi muda menghadapi tantangan ekonomi di era digital.
Menurut Sulpakar, perubahan ekonomi global dan transformasi digital saat ini mengharuskan generasi muda memiliki kemampuan beradaptasi, berpikir inovatif, serta didukung literasi keuangan yang memadai agar dapat mengambil keputusan ekonomi secara tepat.
“Kemudahan akses investasi saat ini harus diimbangi dengan pemahaman yang benar agar mahasiswa tidak mudah terjebak pada investasi ilegal, pinjaman online ilegal, maupun praktik keuangan yang merugikan,” ujar Sulpakar.
Sementara itu, Rektor Universitas Malahayati, Muhammad Kadafi menilai pasar modal saat ini memiliki fungsi yang semakin luas. Selain sebagai sarana investasi, pasar modal juga dipandang memiliki kontribusi penting dalam mendorong pemerataan ekonomi dan memperkuat pembangunan daerah.
“Pasar modal hari ini bukan lagi hanya milik pemain besar. Pasar modal sekarang menjadi instrumen pemerataan ekonomi dan juga kemandirian daerah,” katanya.
SEPMT 2026 di Provinsi Lampung sendiri diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari sosialisasi penerbitan obligasi dan sukuk daerah, sosialisasi perdagangan karbon, kuliah umum yang diikuti sekitar 1.500 mahasiswa, sosialisasi regulasi OJK hingga media gathering bersama wartawan lokal. Melalui kegiatan tersebut, OJK berharap peningkatan literasi dan inklusi pasar modal mampu memperkuat partisipasi investor domestik, khususnya generasi muda, sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan daerah secara berkelanjutan. (Red/ADV)











