PALANGKA RAYA – Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah menilai kondisi fundamental ekonomi daerah masih berada dalam posisi yang kuat, meskipun dinamika nilai tukar rupiah dan tekanan inflasi global tetap menjadi perhatian utama dalam menjaga stabilitas ekonomi di daerah.
Pandangan tersebut disampaikan dalam rangka memperkuat pemahaman publik terkait arah kebijakan ekonomi, khususnya yang berkaitan dengan stabilitas makroekonomi di Kalimantan Tengah yang terus dipantau secara berkala oleh BI.
“Kondisi ekonomi Kalimantan Tengah secara fundamental masih cukup kuat dan resilien, meskipun kita tetap harus mewaspadai dinamika global yang memengaruhi inflasi dan nilai tukar rupiah. Stabilitas tetap menjadi fokus utama dalam menjaga daya beli masyarakat dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Tengah, baru-baru ini.
Ia menjelaskan bahwa tekanan inflasi di daerah umumnya dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti harga komoditas global, distribusi barang, serta kondisi cuaca yang berdampak pada sektor pangan. Namun demikian, BI Kalteng menilai bahwa struktur ekonomi daerah masih memiliki daya tahan yang cukup baik.
“Inflasi perlu dijaga agar tetap berada dalam kisaran sasaran, karena hal ini sangat berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat. Kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah melalui berbagai program pengendalian inflasi, terutama pada komoditas pangan strategis,” lanjutnya dalam keterangan tersebut.
Lebih lanjut, BI Kalteng menekankan bahwa penguatan ketahanan ekonomi daerah tidak hanya bertumpu pada stabilitas harga, tetapi juga pada peningkatan produktivitas sektor unggulan daerah, termasuk pertanian, perkebunan, dan sektor UMKM yang menjadi penopang utama perekonomian lokal.
Dalam kesempatan yang sama, BI juga menyoroti pentingnya menjaga stabilitas nilai rupiah sebagai bagian dari upaya nasional dalam memperkuat fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, stabilitas rupiah memiliki dampak langsung terhadap biaya impor, investasi, hingga harga barang di tingkat konsumen.
“Stabilitas nilai rupiah sangat penting karena berdampak pada seluruh aspek ekonomi, mulai dari perdagangan hingga investasi. Oleh karena itu, sinergi kebijakan antara pusat dan daerah menjadi kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi,” ungkapnya.
BI Kalteng juga mengingatkan bahwa meski tekanan eksternal masih berpotensi terjadi, kondisi ekonomi daerah tetap berada pada jalur pemulihan dan pertumbuhan yang positif. Hal ini tercermin dari aktivitas ekonomi masyarakat yang terus bergerak serta dukungan sektor riil yang masih kuat.
Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai literasi ekonomi dan keuangan juga terus digencarkan untuk meningkatkan pemahaman publik terhadap dinamika inflasi dan pergerakan rupiah, sehingga masyarakat dapat lebih adaptif dalam menghadapi perubahan ekonomi.
Dengan berbagai langkah tersebut, BI Kalteng optimistis bahwa stabilitas ekonomi daerah dapat terus terjaga, sekaligus memperkuat kontribusi Kalimantan Tengah terhadap perekonomian nasional secara keseluruhan.
Secara keseluruhan, BI Kalteng menegaskan bahwa meski tantangan ekonomi global masih membayangi, fondasi ekonomi daerah tetap solid dan mampu menopang pertumbuhan yang berkelanjutan melalui sinergi kebijakan dan penguatan sektor riil. (Red/ADV)











