EKONOMI & BISNISHEADLINE

OJK Optimistis Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil Nasional

25
×

OJK Optimistis Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil Nasional

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga meskipun ketidakpastian ekonomi global meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik, tekanan inflasi, serta kebijakan perdagangan sejumlah negara. Kondisi tersebut dinilai masih mampu diantisipasi melalui koordinasi kebijakan yang kuat sehingga sektor keuangan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK pada 29 Juli 2026 menilai sektor jasa keuangan tetap stabil di tengah ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi. Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat menyusul gagalnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran di awal Juli 2026 yang kembali mendorong kenaikan harga minyak,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, baru-baru ini.

OJK menjelaskan, kondisi global masih dibayangi berbagai risiko, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan ekonomi dunia hingga kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan Amerika Serikat terhadap puluhan negara mitra dagang. Berbagai perkembangan tersebut meningkatkan premi risiko global dan memicu volatilitas di pasar keuangan internasional.

“Dana Moneter Internasional (IMF) pada Juli 2026 merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 3 persen, lebih rendah dibandingkan proyeksi April 2026 sebesar 3,1 persen. Revisi tersebut dipengaruhi dampak perang yang berkepanjangan, meski perkembangan investasi di sektor kecerdasan artifisial masih menjadi faktor positif yang berpotensi menopang prospek pertumbuhan ekonomi dunia,” jelas Friderica.

Baca Juga  Konektivitas Jalan Antarwilayah Jadi Perhatian DPRD Kalteng

Menurut OJK, aktivitas ekonomi global masih menunjukkan perbedaan kinerja antarnegara. Negara-negara maju mulai mencatat perbaikan aktivitas manufaktur, sementara negara berkembang masih menghadapi pertumbuhan yang relatif terbatas. Di sisi lain, tekanan di pasar energi global juga masih membayangi prospek pemulihan ekonomi dunia.

“Di Amerika Serikat, inflasi terus menunjukkan moderasi dengan aktivitas ekonomi yang relatif stabil. Sebaliknya, Tiongkok mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 pada level terendah sejak akhir 2022 akibat masih lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta, meskipun kinerja ekspor tetap menjadi penopang utama perekonomian negara tersebut. Sementara itu, kawasan Eropa dan Inggris juga memperlihatkan tren penurunan inflasi,” katanya.

Perkembangan tersebut turut memengaruhi dinamika pasar keuangan global yang bergerak bervariasi. Arus keluar modal asing dari berbagai pasar keuangan kembali terjadi, meskipun intensitasnya dinilai lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya sehingga risiko terhadap stabilitas keuangan masih dapat dikelola.

“Di dalam negeri, kondisi perekonomian tetap menunjukkan ketahanan yang baik. Tekanan harga terus mereda dengan inflasi Juli 2026 tercatat sebesar 2,88 persen secara tahunan. Pada saat yang sama, aktivitas manufaktur kembali memasuki fase ekspansi dengan Purchasing Managers’ Index berada pada level 50,2,” ungkap Friderica.

Baca Juga  Pemko Palangka Raya Diimbau Tingkatkan PAD dari Sektor Strategis

OJK menilai berbagai indikator tersebut menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan eksternal. Stabilitas sektor jasa keuangan juga tetap terjaga seiring sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang terus diperkuat dalam menjaga kepercayaan pelaku usaha maupun investor.

“Berdasarkan perkembangan tersebut, stabilitas sektor keuangan nasional tetap terjaga didukung oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang memadai. OJK akan terus mencermati berbagai risiko global serta memperkuat koordinasi bersama para pemangku kepentingan untuk menjaga ketahanan sektor jasa keuangan agar tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” tandas Friderica. (Red/Adv)

+ posts