AKADEMIKAHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

UPR Kembangkan Konsentrat Sabun Ramah Lingkungan untuk Pemadaman Karhutla

11
×

UPR Kembangkan Konsentrat Sabun Ramah Lingkungan untuk Pemadaman Karhutla

Sebarkan artikel ini

LPALANGKARAYA – Universitas Palangka Raya (UPR) bekerja sama dengan Shabondama Jepang dalam pengembangan dan penggunaan konsentrat sabun ramah lingkungan sebagai salah satu teknologi pendukung pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), termasuk pada kebakaran di lahan gambut.

Kepala UPA Gambut UPR, Dr. Adi Jaya, mengatakan konsentrat sabun tersebut digunakan dengan cara dicampurkan bersama air pada konsentrasi sekitar satu persen. Berdasarkan pengalaman penggunaan di lapangan, larutan tersebut dinilai efektif membantu proses pemadaman karhutla, termasuk ketika digunakan pada kondisi kebakaran di kawasan lahan gambut.

“UPR saat ini bekerja sama dengan Shabondama Jepang dalam pengembangan dan penggunaan konsentrat sabun ramah lingkungan untuk pemadaman karhutla. Konsentrat tersebut dicampurkan dengan air pada konsentrasi sekitar satu persen dan berdasarkan pengalaman di lapangan terbukti efektif membantu proses pemadaman, termasuk pada kebakaran di lahan gambut,” kata Dr. Adi Jaya, Sabtu (29/8/2026).

Menurut dia, pengembangan teknologi tersebut saat ini menghadapi kendala pada aspek produksi karena seluruh proses pembuatan konsentrat sabun masih dilakukan di Jepang. Kondisi itu membuat kebutuhan produk untuk penggunaan di Indonesia masih harus dipenuhi melalui proses impor.

Proses produksi sabun cair tersebut juga membutuhkan waktu sekitar dua minggu. Durasi tersebut belum termasuk waktu yang diperlukan untuk pengiriman produk dari Jepang ke Indonesia sehingga ketersediaan konsentrat di lapangan membutuhkan perencanaan dan waktu yang cukup.

“Untuk mengatasi kendala tersebut, UPR saat ini sedang dalam proses memperoleh Standar Nasional Indonesia atau SNI agar produk nantinya dapat diproduksi di dalam negeri. Dengan demikian, teknologi dan formulasi produknya pada dasarnya sudah tersedia, sedangkan tantangan berikutnya adalah pengembangan sistem produksi dan aplikasinya di Indonesia,” ujarnya.

Baca Juga  Centrepark Tegaskan Sistem Parkir Duta Mall Tetap Fleksibel: Bisa Tunai Maupun Non-Tunai

Selain persoalan produksi, UPR juga terus melakukan penyempurnaan terhadap sistem pencampuran konsentrat sabun dengan air. Evaluasi tersebut dilakukan berdasarkan pengalaman penggunaan di lapangan, terutama untuk memastikan proses pencampuran berlangsung stabil dan konsentrasi larutan tetap sesuai kebutuhan pemadaman.

Saat ini terdapat dua metode pencampuran yang telah digunakan. Metode pertama dilakukan dengan mencampurkan konsentrat sabun terlebih dahulu dengan air di dalam embung atau tempat penampungan air. Setelah larutan tercampur, air kemudian dipompa dan disemprotkan menuju area yang terbakar.

Metode tersebut dinilai dapat berjalan dengan baik dalam membantu proses pemadaman. Namun, penerapannya membutuhkan tahapan tambahan karena air harus terlebih dahulu dimasukkan ke tempat penampungan untuk dicampur dengan konsentrat sabun sebelum kemudian dipompa kembali menuju lokasi kebakaran.

Sementara itu, metode kedua menggunakan sistem pencampuran secara langsung atau inline. Dalam sistem tersebut, air yang berasal dari selang dicampurkan secara langsung dengan konsentrat sabun dari galon sebelum dialirkan menuju nozzle untuk digunakan dalam proses pemadaman.

“Metode inline secara operasional lebih praktis dan berpotensi meningkatkan efisiensi pemadaman. Namun, dalam beberapa kali uji coba masih ditemukan kendala berupa aliran balik air ke dalam galon konsentrat sabun,” kata Dr. Adi Jaya.

Ia menjelaskan, kendala tersebut membuat sistem inline masih memerlukan evaluasi dan penyempurnaan agar dapat digunakan secara lebih optimal. Penyempurnaan diarahkan pada kestabilan proses pencampuran, pengendalian konsentrasi larutan, serta kemudahan penggunaan ketika diterapkan di lokasi kebakaran.

Baca Juga  Katingan Tekankan Pentingnya Inovasi Bebas Konflik Kepentingan

“Karena itu, sistem inline ini masih terus kami evaluasi dan sempurnakan agar pencampuran dapat berlangsung stabil, konsentrasi larutan tetap terkontrol, dan penggunaannya di lapangan menjadi lebih praktis serta efektif,” ujarnya.

Pengembangan konsentrat sabun ramah lingkungan tersebut menjadi bagian dari upaya UPR untuk memperkuat dukungan teknologi dalam penanganan karhutla. Selain memastikan efektivitas larutan saat digunakan, pengembangan juga diarahkan agar produk dapat diproduksi di Indonesia sehingga proses penyediaannya tidak lagi sepenuhnya bergantung pada produksi dan pengiriman dari Jepang.

Dengan teknologi dan formulasi yang telah tersedia, tahapan berikutnya berfokus pada pemenuhan SNI, pengembangan sistem produksi dalam negeri, serta penyempurnaan metode aplikasi di lapangan. Upaya tersebut diharapkan dapat menghasilkan sistem pemadaman yang lebih praktis, efisien, stabil, dan sesuai dengan kebutuhan penanganan karhutla, termasuk di lahan gambut. (Red/ADV)

Facebook Comments Box
+ posts