HEADLINENASIONALPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Dedikasi Personel Senior, Kai Ujang dan H. Sopian Tetap Tangguh Hadapi Karhutla

29
×

Dedikasi Personel Senior, Kai Ujang dan H. Sopian Tetap Tangguh Hadapi Karhutla

Sebarkan artikel ini

PALANGKARAYA – Di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya, dua personel senior Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Dalkarhutla) Dinas Kehutanan Kalimantan Tengah tetap berada di lapangan untuk menjalankan tugas pemadaman. Usia yang tidak lagi muda tidak menjadi alasan bagi Kai Ujang dan H. Sopian untuk mengurangi keterlibatan dalam penanganan karhutla.

Keduanya dikenal di lingkungan tim Dalkarhutla dengan sapaan Kai Ujang dan Pa Yan. Kai Ujang yang merupakan kelahiran Sunda telah terlibat dalam kegiatan pengendalian karhutla sejak 2011, sedangkan H. Sopian merupakan warga asal Palangka Raya yang juga memiliki pengalaman panjang dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan. “Pengalaman panjang menjadi bekal penting bagi personel dalam menghadapi kondisi kebakaran yang memiliki karakter berbeda-beda,” kata Kepala Dinas Kehutanan Kalteng Agustan Saining, baru-baru ini.

Selama lebih dari satu dekade berada di lapangan, Kai Ujang telah terbiasa menghadapi berbagai kondisi ketika melakukan pemadaman, mulai dari panas yang menyengat, kepulan asap, medan berlumpur hingga kobaran api yang dapat berubah arah mengikuti kondisi angin. Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa pemadaman membutuhkan ketelitian dalam membaca situasi dan menentukan langkah yang tepat.

“Personel harus tetap memperhatikan kondisi medan, arah angin, sumber air, serta karakter api sebelum melakukan tindakan pemadaman,” ujar Agustan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu modal bagi personel senior untuk tetap tenang dan mengambil keputusan secara tepat ketika menghadapi situasi yang berisiko di lapangan.

Baca Juga  NU Siapkan Klinik Jadi Rumah Sakit, Warga Didorong Alihkan BPJS

Hal serupa juga terlihat pada H. Sopian yang selama bertahun-tahun menjalankan tugas pengendalian karhutla. Ketika tim mendapatkan informasi mengenai titik api dan bergerak menuju lokasi, dirinya tetap bergabung bersama personel lainnya untuk melakukan penanganan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa tugas pemadaman membutuhkan kesiapan seluruh anggota tanpa membedakan usia dan masa pengabdian.

“Keberadaan personel berpengalaman sangat membantu tim dalam menjalankan penanganan di lapangan, terutama ketika menghadapi medan yang sulit dan kondisi api yang cepat berubah,” kata Agustan. Dalam pelaksanaan tugas, pengalaman tersebut dapat menjadi acuan bagi personel lain untuk memahami pola pergerakan api dan kondisi medan yang dihadapi.

Di tengah kepulan asap yang membatasi jarak pandang, panas yang menyengat serta medan yang tidak mudah dilalui, Kai Ujang dan H. Sopian tetap menjalankan tugas bersama tim. Selang pemadam, peralatan lapangan dan pakaian yang basah oleh keringat menjadi bagian dari keseharian mereka ketika berhadapan langsung dengan api.

“Yang terpenting adalah seluruh personel dapat menjalankan tugas dengan disiplin, memperhatikan keselamatan dan bekerja secara bersama-sama,” ujar Agustan. Upaya pemadaman tidak hanya dilakukan untuk menghentikan kobaran api, tetapi juga memastikan titik yang telah ditangani tidak kembali menyala dan menjalar ke area lain.

Di balik proses pemadaman yang terlihat dari kobaran api dan kepulan asap, terdapat personel yang bekerja berulang kali masuk ke kawasan terbakar untuk mengendalikan api. Kai Ujang dan H. Sopian menjadi bagian dari mereka yang tidak selalu terlihat di depan kamera, tetapi tetap berada di lapangan ketika penanganan karhutla membutuhkan tenaga dan pengalaman.

Baca Juga  Seminar FISIP UPR Angkat Isu Perdagangan Karbon dan Hutan Kalimantan

“Dedikasi personel di lapangan merupakan bagian penting dalam menjaga kawasan dari ancaman kebakaran hutan dan lahan,” kata Agustan. Semangat tersebut menjadi gambaran bahwa pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada peralatan, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki pengalaman, keberanian, kedisiplinan, serta tanggung jawab terhadap lingkungan.

Kisah Kai Ujang dan H. Sopian menjadi gambaran tentang pengabdian personel senior yang tetap berdiri di garis depan ketika karhutla terjadi. Dengan pengalaman yang dimiliki, keduanya terus menjalankan tugas bersama tim Dalkarhutla untuk mengendalikan api dan mencegah kebakaran meluas. “Selama masih dibutuhkan di lapangan, personel harus tetap memberikan kemampuan terbaik untuk membantu pengendalian karhutla,” tandas Agustan. (Red/Adv)

Facebook Comments Box
+ posts