AKADEMIKAHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Rektor UPR Ikut Padamkan Karhutla Hingga Malam Hari

15
×

Rektor UPR Ikut Padamkan Karhutla Hingga Malam Hari

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Rektor Universitas Palangka Raya Prof. Dr. Ir. Salampak, M.S., IPU, ikut memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Palangka Raya hingga malam hati.

PALANGKA RAYA – Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Prof. Dr. Ir. Salampak, M.S., IPU, ikut terlibat langsung dalam upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kota Palangka Raya hingga malam hari.

Keterlibatan tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian sekaligus dukungan terhadap upaya penanganan karhutla yang terjadi di tengah kondisi cuaca panas dan kering. Rektor UPR tidak hanya memantau proses pemadaman, tetapi juga turun langsung membantu petugas di lapangan.

Prof. Salampak menyampaikan, dirinya terlibat dalam pemantauan dan pemadaman karhutla sejak 26 Agustus 2026. Setelah tiba dari bandara, ia langsung menuju lokasi untuk mengawasi kondisi kebakaran sekaligus ikut membantu proses pemadaman hingga malam sekitar pukul 22.00 WIB.

“Setibanya dari bandara pada 26 Agustus, saya langsung ikut mengawasi sekaligus membantu pemadaman api hingga malam sekitar pukul 22.00 WIB. Keterlibatan ini menjadi bagian dari kepedulian kami terhadap kondisi lingkungan dan keselamatan masyarakat yang terdampak karhutla,” ujarnya, Rabu (26/8/2026).

Menurut Prof. Salampak, proses pemadaman dilakukan dengan menyesuaikan kondisi api dan karakteristik lahan. Salah satu teknik yang digunakan adalah teknologi shabondama, yang memanfaatkan busa untuk membantu proses pemadaman sehingga penggunaan air dapat lebih efektif dalam menangani kobaran api.

“Teknik pemadaman dengan menggunakan teknologi shabondama dilakukan untuk membantu meningkatkan efektivitas pemadaman. Busa yang dihasilkan dapat membantu membasahi dan menutup permukaan yang terbakar, sehingga api lebih mudah dikendalikan dan potensi penyalaan kembali dapat ditekan,” jelasnya.

Baca Juga  Mahkamah Agung Kabulkan Kasasi OJK, Pencabutan Izin Kresna Life Tetap Sah

Ia kembali turun langsung dalam kegiatan pemadaman pada 27 Agustus 2026. Sejak sore hingga sekitar pukul 22.30 WIB, Rektor UPR ikut berada di lokasi bersama tim untuk membantu menangani api yang masih membakar lahan.

“Selama berada di lapangan, lumayan ikut memadamkan api selama satu jam dengan memegang selang. Sekarang sedang istirahat karena kelelahan dan flu berat. Kondisi di lapangan memang membutuhkan tenaga dan konsentrasi karena api harus terus dikendalikan agar tidak meluas,” ujarnya.

Menurutnya, keterlibatan langsung dalam penanganan karhutla memberikan gambaran nyata mengenai beratnya kondisi yang dihadapi petugas ketika melakukan pemadaman. Api tidak hanya perlu dipadamkan pada bagian permukaan, tetapi juga harus dipastikan tidak kembali menyala pada bagian lahan yang masih menyimpan panas.

“Pemadaman karhutla membutuhkan kerja sama, ketelitian, dan ketahanan fisik. Api harus benar-benar dikendalikan, termasuk memperhatikan bagian-bagian lahan yang masih berpotensi menimbulkan titik api. Karena itu, upaya pemadaman harus dilakukan secara bersama-sama dan tidak hanya mengandalkan satu pihak,” katanya.

Prof. Salampak menilai penanganan karhutla membutuhkan kepedulian dari berbagai unsur, termasuk masyarakat. Menurutnya, pencegahan menjadi hal penting karena kebakaran pada lahan kering dapat berkembang dengan cepat dan menyulitkan proses pemadaman apabila tidak segera ditangani.

Baca Juga  Wali Kota Palangka Raya Resmi Buka Festival Palangka Raya 2025 untuk Perkuat Identitas Budaya Lokal

“Kita harus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Ketika kondisi lahan kering dan api mudah menyebar, kewaspadaan harus ditingkatkan. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk mencegah munculnya sumber api dan segera melaporkan apabila melihat adanya kebakaran,” ujarnya lagi.

Ia menegaskan, penanganan karhutla bukan hanya persoalan memadamkan api, tetapi juga menjaga lingkungan serta melindungi masyarakat dari dampak yang ditimbulkan. Karena itu, kerja bersama dan respons cepat menjadi bagian penting dalam menghadapi kebakaran yang terjadi di wilayah Palangka Raya.

Keterlibatan Rektor UPR secara langsung dalam pemadaman menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kepedulian dan kolaborasi berbagai pihak. Dengan pemantauan, respons cepat, penggunaan teknik pemadaman yang sesuai, serta keterlibatan masyarakat, api diharapkan dapat segera dikendalikan sehingga risiko meluasnya kebakaran dan dampaknya terhadap lingkungan maupun masyarakat dapat diminimalkan. (Red/ADV)

Facebook Comments Box
+ posts