EKONOMI & BISNISHEADLINENASIONAL

Konsumsi dan Investasi Topang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

14
×

Konsumsi dan Investasi Topang Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan perekonomian Indonesia pada triwulan II 2026 tetap tumbuh kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Optimisme tersebut didukung oleh terjaganya daya beli masyarakat, pertumbuhan investasi, percepatan belanja pemerintah, serta sinergi kebijakan yang terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“OJK memperkirakan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tetap tumbuh kuat di tengah tantangan ekonomi global. Daya beli masyarakat tetap terjaga dalam mendukung konsumsi rumah tangga yang didukung peran shock absorber APBN melalui efektivitas program perlindungan sosial, stabilisasi harga pangan dan energi, penciptaan lapangan kerja, serta stimulus pada periode libur sekolah,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi, belum lama ini.

Selain konsumsi rumah tangga, OJK juga memperkirakan investasi tetap tumbuh solid seiring berlanjutnya proyek-proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi dan pembangunan infrastruktur yang menjadi bagian dari program prioritas pemerintah. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penopang penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

“Investasi diprakirakan tetap tumbuh kuat didukung keberlanjutan proyek hilirisasi bernilai tambah tinggi serta pembangunan infrastruktur. Di sisi lain, konsumsi pemerintah juga diperkirakan tetap positif seiring percepatan realisasi belanja program prioritas, pembayaran gaji ke-13 ASN, serta penyaluran bantuan sosial,” kata Friderica.

Baca Juga  Pemprov Hadir di Hanau, Gubernur Agustiar Pastikan Bantuan Pangan dan BLT Tepat Sasaran

OJK menilai koordinasi kebijakan antara Pemerintah dan Bank Indonesia terus diperkuat untuk menjaga kecukupan likuiditas di perekonomian maupun sektor perbankan. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan baik.

“Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan uang primer atau M0 yang tetap tinggi sepanjang triwulan II 2026 dan masih meningkat sebesar 15,4 persen secara tahunan pada Juli pekan ketiga 2026. Selain itu, fungsi intermediasi perbankan juga semakin membaik sehingga mampu mendukung kebutuhan pembiayaan dunia usaha dan masyarakat,” jelas Friderica.

Di sektor riil, aktivitas industri manufaktur yang sempat mengalami moderasi pada penghujung triwulan II kembali menunjukkan perbaikan. Hal itu ditandai dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang kembali berada pada zona ekspansi sehingga mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku usaha terhadap prospek perekonomian nasional.

“PMI Manufaktur pada Juli 2026 berada pada level 50,2 yang mengindikasikan aktivitas industri kembali memasuki fase ekspansi. Perkembangan sejumlah indikator tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global,” ujarnya.

Menurut OJK, sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas ekonomi nasional. Koordinasi antarlembaga juga dinilai semakin penting untuk memastikan momentum pertumbuhan tetap berlanjut di tengah berbagai tantangan eksternal.

Baca Juga  Jelang Ramadan, DPRD Palangka Raya Minta Pemko Pastikan Distribusi Bahan Pokok Lancar

“Ke depan, sinergi kebijakan antarlembaga anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan momentum pertumbuhan. Dengan sinergi kebijakan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diprakirakan berada pada kisaran 5,6 hingga 6,0 persen secara tahunan yang ditopang berbagai sinergi kebijakan Pemerintah dan lembaga anggota KSSK lainnya untuk menjaga berlanjutnya momentum pertumbuhan,” tandas Friderica. (Red/Adv)

+ posts