AKADEMIKAHEADLINENASIONALPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Menuju Indonesia Emas 2045, FMIPA UPR Kembangkan Inovasi Lokal

63
×

Menuju Indonesia Emas 2045, FMIPA UPR Kembangkan Inovasi Lokal

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Suasana Seminar Nasional Sains dan Teknologi ke-8 Tahun 2026 yang diselenggarakan FMIPA Universitas Palangka Raya dengan menghadirkan akademisi, peneliti, dan praktisi dari dalam maupun luar negeri.

PALANGKARAYA – Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Palangka Raya (FMIPA UPR) menyelenggarakan Seminar Nasional Sains dan Teknologi ke-8 Tahun 2026 di Aula Rahan Rektorat UPR dan Ruang Kuliah FMIPA, Senin (12/10/2026).

 Kegiatan yang berlangsung secara hybrid, yakni luring dan daring, ini menjadi ruang bagi akademisi, peneliti, mahasiswa, serta praktisi untuk bertukar gagasan, mempresentasikan hasil penelitian, dan memperkuat kolaborasi dalam pengembangan sains dan teknologi.

Seminar tahun ini mengangkat tema “Kolaborasi Inovasi Sains dan Teknologi Berbasis Sumber Daya Alam dan Potensi Lokal untuk Transformasi Berdampak Menuju Indonesia Emas 2045”. Wakil Rektor Bidang Akademik UPR, Dr. Nataliana Asi, M.A., mengapresiasi konsistensi FMIPA dalam menyelenggarakan forum ilmiah tersebut hingga memasuki tahun kedelapan.

 “Keberlangsungan agenda ilmiah tahunan ini menunjukkan kapasitas dan kemampuan sivitas akademika FMIPA dalam menyelenggarakan forum ilmiah yang melibatkan berbagai kalangan,” kata Nataliana dalam sambutannya, baru-baru ini.

Nataliana berharap seminar tersebut mampu menghasilkan pemikiran dan rekomendasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan yang berkembang. Menurutnya, kegiatan ilmiah seperti ini juga memiliki peran strategis dalam mempertemukan keahlian dan pengalaman dari berbagai bidang. Dengan demikian, hasil diskusi dan penelitian tidak hanya memperkaya pengetahuan akademik, tetapi juga dapat menjadi landasan pengembangan inovasi yang menjawab kebutuhan masyarakat serta memperkuat kemitraan strategis antara UPR dan berbagai pihak di luar kampus.

Dukungan terhadap penyelenggaraan seminar turut ditunjukkan Rektor UPR periode 2026–2030, Prof. Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D., yang hadir sebelum sesi pemaparan materi dimulai. Di sela-sela agenda kegiatannya, Bhayu menyempatkan diri berdialog dengan pimpinan FMIPA, panitia penyelenggara, dan peserta. Kehadiran rektor tersebut menjadi bagian dari dukungan institusi terhadap pengembangan budaya akademik dan penguatan kegiatan ilmiah yang mempertemukan perguruan tinggi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Ketua Panitia Pelaksana, Reny Rosalina, Ph.D., melaporkan bahwa seminar diikuti 115 peserta, terdiri atas 105 pemakalah dan 10 peserta nonpemakalah. Peserta berasal dari kalangan mahasiswa sarjana dan pascasarjana, dosen, peneliti, profesional, hingga praktisi umum. Dari keseluruhan peserta, sebanyak 104 orang berasal dari Indonesia yang mewakili 14 provinsi dan 21 institusi, sedangkan 11 peserta lainnya berasal dari Malaysia. “Partisipasi peserta dari berbagai daerah dan institusi menunjukkan adanya antusiasme untuk berbagi pengetahuan serta memperluas jejaring akademik melalui forum ilmiah ini,” demikian gambaran yang disampaikan dalam laporan kepanitiaan.

Baca Juga  Rawat Bundaran Besar Demi Wajah Kota yang Humanis

Dari sisi karya ilmiah, panitia menerima 105 abstrak, dengan rincian 72 abstrak untuk presentasi dan 33 naskah lengkap atau full paper. Capaian tersebut memperlihatkan keterlibatan peserta dalam menyampaikan hasil penelitian dan memperluas pertukaran informasi ilmiah. Melalui presentasi makalah dan diskusi, peserta diharapkan dapat memperoleh masukan untuk meningkatkan kualitas penelitian, menemukan perspektif baru, serta mengembangkan gagasan yang relevan dengan pemanfaatan sumber daya alam dan potensi lokal secara berkelanjutan.

Seminar ini menghadirkan sejumlah pembicara utama dari dalam dan luar negeri, yakni Aep Patah, Ph.D., Dekan FMIPA Institut Teknologi Bandung yang memiliki keahlian di bidang kimia; Dr. Adventus Panda, S.Si., M.Si., dari Program Studi Biologi FMIPA UPR; serta Assoc. Prof. Ir. Ts. Dr. Nur Hasimah Alias dari Universiti Teknologi MARA, Shah Alam, Malaysia. Selain akademisi, forum tersebut menghadirkan Arivian Rahmadian Wimulya, Officer Management Development PT Asmin Bara Bronang, untuk memberikan perspektif praktisi industri. Keterlibatan para pembicara dari beragam latar belakang diharapkan mempertemukan perkembangan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan penerapan teknologi di dunia kerja.

Selain pembicara utama, sesi invited speaker menghadirkan Dr. David Nugroho dari Department of Integrated Science, Faculty of Science, Khon Kaen University, Thailand; Dr. Indra Memdi Khoris dari Research Institute of Materials Chemistry, Chungnam National University, Korea Selatan; Dr. apt. Mohammad Rizki Fadhil Pratama, S.Farm., M.Si., dari Universitas Muhammadiyah Palangka Raya; serta Retno Agnestia, S.Si., M.Sc., Ph.D., dari Program Studi Kimia FMIPA UPR.

Baca Juga  Penguatan Infrastruktur Digital Perkuat Layanan Indosat di Kalimantan

Kehadiran para pakar tersebut memperluas cakupan pembahasan lintas disiplin sekaligus membuka peluang pertukaran pengalaman dan pengembangan kerja sama penelitian antarlembaga, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Reny Rosalina menyampaikan terima kasih kepada pimpinan UPR dan FMIPA atas arahan serta dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan. Ia juga memberikan apresiasi kepada Turangga Resources, yang menaungi PT Asmin Bara Bronang, PT Suprabari Mapanindo Mineral, dan PT Telen Orbit Prima, atas dukungan sebagai sponsor utama secara konsisten sejak 2018. Dukungan berbagai pihak tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan forum ilmiah, sehingga kegiatan dapat menghadirkan peserta dan pembicara dari berbagai institusi serta menyediakan ruang untuk berbagi hasil penelitian dan pengalaman profesional.

Penyelenggaraan Seminar Nasional Sains dan Teknologi ke-8 FMIPA UPR diharapkan tidak berhenti pada penyampaian hasil penelitian, tetapi berlanjut menjadi kerja sama nyata dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan inovasi. Kolaborasi perguruan tinggi, peneliti, dunia usaha, pemerintah, dan masyarakat diperlukan agar hasil riset berbasis sumber daya alam serta potensi lokal dapat dikembangkan menjadi solusi yang bermanfaat dan berkelanjutan.

“Seminar ini diharapkan tidak hanya menjadi wadah diseminasi hasil penelitian, tetapi juga memperkuat jejaring kolaborasi dan melahirkan inovasi berkelanjutan yang memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045,” tandas Reny. (Red/Adv)

Facebook Comments Box
+ posts