HEADLINEHUKUM & PERISTIWA

Listrik Padam Berulang, Peternak Kalteng Ancam Tempuh Jalur Hukum usai Demo Lempar Ayam Busuk

28
×

Listrik Padam Berulang, Peternak Kalteng Ancam Tempuh Jalur Hukum usai Demo Lempar Ayam Busuk

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA – Ketidakpastian pasokan listrik di Kalteng kembali memicu keresahan. Puluhan peternak ayam yang tergabung dalam Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Kalteng meluapkan protes dengan melempar ayam busuk ke halaman Kantor PLN UP3 Palangka Raya di Jalan Ahmad Yani, Rabu (29/7/2026).

Aksi yang berlangsung hingga hari kedua itu menjadi puncak kekecewaan para peternak setelah belum memperoleh kesempatan berdialog langsung dengan General Manager PLN. Mereka menilai persoalan pemadaman listrik yang terjadi berulang kali telah berdampak serius terhadap keberlangsungan usaha perunggasan di berbagai wilayah Kalteng.

Bagi pelaku usaha peternakan modern, listrik merupakan komponen utama dalam operasional kandang. Sistem kandang tertutup atau close house yang banyak digunakan mengandalkan pasokan listrik untuk menggerakkan kipas ventilasi, pendingin udara, pencahayaan, hingga pengaturan suhu dan kelembapan.

Ketua Pinsar Kalteng, Andi Bustan, mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen peternakan ayam di Kalteng menggunakan sistem close house. Dalam kondisi normal, sistem itu mampu meningkatkan produktivitas. Namun, ketika aliran listrik terhenti, risiko kematian ayam meningkat dalam waktu singkat.

“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, peternak bisa kolaps. Harga ayam sudah jatuh, sekarang ditambah sering mati lampu. Ayam yang dipelihara selama 40 hari justru mati menjelang panen,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pemadaman selama lima menit saja dapat mengakibatkan ribuan ayam mati akibat terganggunya sirkulasi udara di dalam kandang. Situasi itu semakin berat karena sebagian besar peternak tengah menghadapi penurunan harga jual ayam di tingkat pasar.

Baca Juga  Progress Pembangunan MPP dan Gor Pulang Pisau Capai 72 Persen

Kerugian yang ditanggung pun tidak sedikit. Satu kandang dengan kapasitas sekitar 40 ribu ekor ayam diperkirakan dapat mengalami kerugian hingga Rp360 juta apabila terjadi kematian massal. Jika gangguan listrik terjadi secara bersamaan di sejumlah lokasi, total kerugian berpotensi menembus miliaran rupiah.

Andi menambahkan, sektor perunggasan di Kalteng saat ini melibatkan sedikitnya 12 perusahaan besar dan menjadi sumber penghidupan bagi sekitar 3.000 hingga 4.000 tenaga kerja.

Oleh karena itu, gangguan pasokan listrik tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga pada rantai distribusi dan stabilitas harga pangan.

“Kalau produksi terganggu terus-menerus, pasokan ayam ke masyarakat akan berkurang. Dampaknya bisa memicu kenaikan harga di pasaran,” katanya.

Gangguan listrik disebut terjadi di sejumlah daerah, seperti Palangka Raya, Kotawaringin Barat, dan Kotawaringin Timur. Para peternak mengaku telah berupaya mengantisipasi dengan menyediakan genset di setiap kandang. Namun, penggunaan genset membutuhkan pasokan solar yang besar dan biaya operasional yang tidak sedikit, sementara banyak peternakan berada jauh dari SPBU.

Melalui aksi ini, Pinsar Kalteng meminta PLN segera melakukan pemetaan kawasan sentra peternakan agar pemadaman dapat diminimalkan. Mereka juga mendorong adanya mekanisme penanganan cepat saat terjadi gangguan, sehingga kerugian yang dialami peternak tidak terus berulang.

Baca Juga  Ribuan Peserta Meriahkan Hadari Kahayan Colour Run 6K di Palangkaraya

Selain itu, para peternak berharap ada komunikasi yang lebih terbuka antara PLN dan pelaku usaha perunggasan. Kejelasan informasi terkait jadwal pemadaman maupun langkah mitigasi dianggap penting agar peternak dapat melakukan antisipasi lebih awal.

Apabila belum ada langkah konkret dalam waktu dekat, Pinsar Kalteng menyatakan siap menempuh jalur hukum sebagai bentuk perjuangan untuk memperoleh kepastian dan perlindungan bagi sektor perunggasan yang menjadi salah satu penopang kebutuhan pangan masyarakat di Kalteng. (*/red)

+ posts