HEADLINENASIONALPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Hotspot Karhutla Kalteng Turun, Kewaspadaan Tetap Ditingkatkan

16
×

Hotspot Karhutla Kalteng Turun, Kewaspadaan Tetap Ditingkatkan

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA – Jumlah titik panas atau hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah menunjukkan penurunan signifikan. Berdasarkan data Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, jumlah hotspot pada 8 September 2026 tercatat sebanyak 950 titik, turun hampir setengahnya dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 1.824 titik. Penurunan tersebut menjadi perkembangan positif dalam upaya pengendalian karhutla yang terus dilakukan pemerintah bersama unsur terkait.

“Hotspot menurun tidak berarti kita menurunkan kewaspadaan. Angka yang turun ini menunjukkan upaya pengendalian berjalan, tetapi potensi api masih ada dan bisa kembali meningkat sewaktu-waktu,” ucap Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah, Agustan Saining, baru-baru ini.

Data tersebut dirilis Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Tengah dengan sumber pemantauan dari laman sipongi.gakkum.kehutanan.go.id pada tingkat kepercayaan Medium–High. Kondisi itu menunjukkan bahwa dinamika karhutla masih perlu menjadi perhatian, terlebih pemantauan dilakukan dalam masa Status Tanggap Darurat Karhutla yang berlaku sejak 31 Agustus hingga 29 September 2026. Pemerintah daerah pun tetap melakukan pemantauan dan penanganan terhadap titik-titik yang terdeteksi.

“Kami tetap memantau setiap titik yang terdeteksi. Sinergi antara pemerintah daerah, TNI, Polri, perusahaan, serta masyarakat di lapangan menjadi kunci utama agar hotspot tidak kembali meningkat,” ungkap Agustan.

Baca Juga  Pemko Dorong Pertanian Hidroponik Jadi Solusi Kota Hijau

Secara harian, jumlah hotspot di Kalteng mengalami fluktuasi selama periode 1–8 September 2026. Pada 1 September tercatat 7.081 titik, kemudian turun menjadi 4.861 titik pada 2 September dan 3.552 titik pada 3 September. Selanjutnya jumlah hotspot kembali meningkat menjadi 4.436 titik pada 4 September, 5.357 titik pada 5 September, dan mencapai puncak 5.746 titik pada 6 September sebelum turun tajam menjadi 1.824 titik pada 7 September dan 950 titik pada 8 September.

“Status tanggap darurat masih berlaku hingga 29 September 2026, sehingga pemantauan dan penanganan harus terus dilakukan di seluruh wilayah,” tegas Agustan.

Berdasarkan persebarannya pada 8 September 2026, sejumlah wilayah masih mencatat hotspot dalam jumlah cukup tinggi. Pulang Pisau menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, yakni 341 titik, disusul Kotawaringin Timur sebanyak 125 titik dan Sukamara 123 titik. Sementara itu, Seruyan mencatat 86 titik, Kota Palangka Raya 84 titik, Kapuas 55 titik, Katingan 48 titik, serta Kotawaringin Barat 40 titik.

“Daerah yang masih mencatat angka tinggi seperti Pulang Pisau, Kotawaringin Timur, dan Sukamara menjadi perhatian dalam pemantauan, karena potensi munculnya titik api masih harus diantisipasi,” kata Agustan.

Baca Juga  UPR Klarifikasi Isu Tekanan Akademik Terkait Kasus PV

Selain daerah dengan jumlah hotspot relatif tinggi, Dinas Kehutanan juga mencatat titik panas di sejumlah kabupaten lainnya, yakni Barito Selatan 16 titik, Barito Timur 3 titik, Barito Utara 3 titik, Gunung Mas 10 titik, Lamandau 4 titik, Murung Raya 12 titik, serta beberapa wilayah lainnya. Persebaran tersebut menjadi dasar bagi penguatan pemantauan agar setiap indikasi kebakaran dapat segera ditindaklanjuti dan tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

“Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran lahan dan segera melaporkan jika melihat titik api di sekitar lingkungannya,” tandas Agustan. (Red/Adv)

Facebook Comments Box
+ posts