AKADEMIKAHEADLINENASIONALPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Karhutla Sempat Dekati Gedung Strategis UPR

12
×

Karhutla Sempat Dekati Gedung Strategis UPR

Sebarkan artikel ini

PALANGKARAYA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di kawasan aset lahan Universitas Palangka Raya (UPR), Kampus Yos Sudarso, sempat mendekati sejumlah fasilitas strategis kampus. Titik api yang muncul di tengah kondisi kemarau panjang dan kekeringan lahan gambut tersebut berhasil dikendalikan setelah Tim Tanggap Darurat UPR bergerak cepat melakukan pemadaman sejak api terdeteksi.

“Fenomena iklim global El Niño 2026 dan musim kemarau panjang yang melanda wilayah Kalimantan Tengah telah menyebabkan penurunan drastis kelembapan tanah serta kekeringan ekstrem pada area lahan gambut,” kata Kepala UPA Pengelola Lahan Gambut sekaligus Koordinator Lapangan Tim Penanggulangan Kebakaran Lahan UPR, Dr. Ir. Adi Jaya, M.Si., Ph.D., baru-baru ini.

Menurut Adi Jaya, kondisi cuaca tersebut meningkatkan kerentanan kawasan gambut terhadap kebakaran. Ketika titik api terdeteksi, tim langsung diterjunkan ke lapangan untuk mencegah api berkembang dan menjalar lebih luas, khususnya menuju kawasan yang memiliki bangunan serta fasilitas penting bagi aktivitas kampus.

“Kondisi cuaca yang rentan tersebut memicu terjadinya insiden karhutla di kawasan aset lahan UPR, Kampus Yos Sudarso. Tim Tanggap Darurat UPR langsung bergerak sejak deteksi awal kemunculan api dan melakukan pemadaman di lapangan,” ujarnya.

Baca Juga  Pemkab Barito Selatan dan Adaro Perkuat Sinergi Pembangunan

Penanganan dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan sejumlah unsur internal UPR. Tim gabungan tersebut terdiri atas Unit Penunjang Akademik (UPA) Pengelolaan Lahan Gambut, Pusat Pengembangan IPTEK dan Inovasi Gambut (PPIIG), Peat Techno Park (PTP), Tim Urusan Barang Milik Negara dan Rumah Tangga (BMN-RT), serta relawan tanggap bencana dari unsur sivitas akademika UPR.

“Kerja terpadu tim di lapangan berhasil mengendalikan dan memadamkan titik api yang sempat mendekati kawasan strategis di sekitar Gedung PPIIG dan Gedung Merah Putih,” kata Adi.

Gedung PPIIG dan Gedung Merah Putih menjadi bagian kawasan yang mendapat perhatian dalam penanganan tersebut karena titik api sempat berada di sekitar fasilitas strategis itu. Kecepatan tim dalam melakukan pemadaman menjadi bagian penting untuk mencegah api menjalar lebih jauh dan mengancam aset fisik kampus.

“Respons lapangan kemudian diperkuat melalui konsolidasi formal untuk memastikan manajemen penanganan, kebutuhan logistik, serta strategi pencegahan lanjutan dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.

Meskipun api permukaan berhasil dikendalikan, UPR tidak langsung menghentikan penanganan di lokasi. Karakteristik lahan gambut yang kering memungkinkan api bertahan di bawah permukaan sehingga kondisi tersebut masih menyimpan potensi munculnya titik api baru, terutama ketika suhu tinggi dan embusan angin kencang terjadi.

Baca Juga  Tim UPR Telusuri Ekowisata Bukit Raya, Eksplorasi Potensi Desa Tumbang Habangoi

“Meskipun api permukaan telah padam, tim tanggap darurat tetap bersiaga dan melakukan pemantauan serta pembasahan berkala atau cooling down secara intensif selama 24 jam,” ujar Adi.

Untuk memastikan keamanan kawasan kampus, UPR juga memperkuat langkah kesiapsiagaan setelah kejadian karhutla tersebut. Patroli rutin dan pemantauan titik panas dilakukan di seluruh hamparan lahan milik UPR, terutama pada zona gambut yang dinilai rentan, disertai penyiapan suplai air, tandon penampungan, serta pompa jinjing pemadam di sejumlah titik krusial di lingkar kampus.

“Lahan gambut yang kering masih menyimpan potensi kebakaran bawah tanah atau smoldering yang dapat memunculkan titik api baru sewaktu-waktu, terutama akibat embusan angin kencang dan suhu tinggi,” tandas Adi. (Red/Adv)

Facebook Comments Box
+ posts