AKADEMIKAHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Mahasiswa UPR Kembangkan Kosmetik Hybrid Berbahan Lokal

18
×

Mahasiswa UPR Kembangkan Kosmetik Hybrid Berbahan Lokal

Sebarkan artikel ini

PALANGKA RAYA – Empat mahasiswa lintas jurusan Universitas Palangka Raya (UPR) mengembangkan inovasi kosmetik tradisional berbasis bahan alam khas Kalimantan Tengah. Inovasi tersebut berupa bedak dingin generasi baru yang memadukan arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat untuk membantu mengatasi persoalan kulit berminyak. Penelitian ini dilaksanakan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE) yang didanai Kemendikbudristek.

“Kami mengembangkan bedak dingin dengan memadukan dua bahan alam lokal, yakni arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat, sebagai pendekatan untuk mengatasi masalah kulit berminyak,” kata Ketua Tim Riset Mahasiswa UPR, Anisa Nugraha Heni, baru-baru ini.

Gagasan penelitian tersebut berangkat dari persoalan kulit berminyak yang dinilai dekat dengan kehidupan masyarakat, khususnya remaja dan dewasa muda. Kondisi iklim tropis Indonesia membuat produksi minyak atau sebum pada wajah cenderung tinggi. Dalam dokumen penelitian disebutkan, survei ZAP Beauty Index mencatat lebih dari sepertiga perempuan Indonesia mengeluhkan kulit berminyak yang kerap disertai jerawat dan komedo.

“Persoalan kulit berminyak menjadi salah satu latar belakang kami mengembangkan kembali bedak dingin tradisional agar memiliki fungsi yang lebih spesifik dan dapat diuji secara ilmiah,” ujar Anisa.

Tim kemudian mengangkat kembali bedak dingin sebagai warisan kosmetik tradisional Indonesia yang selama ini dikenal berbahan dasar beras. Konsep tersebut dikembangkan menjadi kosmetik fungsional dengan memanfaatkan bahan alam khas Kalimantan Tengah. Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal dalam penelitian mahasiswa.

Baca Juga  Sekolah Rakyat Palangka Raya Terapkan Tiga Kurikulum Asrama untuk Bentuk Karakter Siswa

“Keunggulan penelitian ini terletak pada pendekatan hybrid karena kami tidak hanya mengandalkan satu bahan aktif, tetapi menggabungkan dua mekanisme kerja dalam satu formulasi,” jelas Anisa.

Arang aktif kayu tumih atau Combretocarpus rotundatus yang merupakan tumbuhan khas lahan gambut Kalimantan Tengah dimanfaatkan karena memiliki struktur mikropori dan luas permukaan tinggi. Karakteristik tersebut membuat arang aktif berperan sebagai adsorben yang dapat menyerap minyak dan kotoran. Sementara itu, ekstrak daun putat atau Planchonia valida mengandung flavonoid, tanin, serta senyawa antioksidan lain yang memiliki aktivitas bioaktif, termasuk sifat antibakteri.

“Arang aktif kayu tumih berperan dalam menyerap minyak dan kotoran, sedangkan ekstrak daun putat memberikan aktivitas bioaktif yang membantu mendukung kondisi kulit,” tutur Anisa.

Kombinasi kedua bahan tersebut menjadi pembeda utama penelitian karena, berdasarkan dokumen riset, perpaduan arang aktif kayu tumih dan ekstrak daun putat belum pernah diteliti sebelumnya dengan pendekatan kuantitatif menggunakan skin analyzer. Alat tersebut digunakan untuk mengukur efektivitas penurunan kadar sebum secara objektif, sehingga penelitian tidak hanya mengandalkan penilaian secara subjektif.

Baca Juga  DPRD Katingan Dukung Digitalisasi Pemasaran Hasil Pertanian dan Perikanan

“Penggunaan skin analyzer menjadi bagian penting dalam penelitian ini karena efektivitas penurunan kadar sebum dapat diukur secara objektif,” kata Anisa.

Riset tersebut digagas Anisa Nugraha Heni dari jurusan Fisika sebagai ketua tim bersama Ade Theresia Hutauruk dari Fisika, Muhammad Ramadhani dari Farmasi, dan Rumita dari Kimia. Penelitian ini berada di bawah bimbingan dosen pendamping Made Dirgantara, S.Si., M.Si. Kolaborasi lintas disiplin itu mempertemukan bidang fisika, farmasi, dan kimia untuk mengembangkan penelitian yang berkaitan dengan persoalan kulit dan pemanfaatan bahan alam.

“Kami berharap kolaborasi lintas disiplin ini dapat menunjukkan bahwa riset sains dasar dapat dikembangkan untuk menjawab persoalan nyata sekaligus mengangkat potensi bahan alam Kalimantan Tengah,” tandas Anisa. (Red/Adv)

Facebook Comments Box
+ posts