EKONOMI & BISNISHEADLINENASIONALPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Harga Sejumlah Komoditas Naik, Inflasi Kalteng Capai 5,02 Persen

13
×

Harga Sejumlah Komoditas Naik, Inflasi Kalteng Capai 5,02 Persen

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Statistisi Ahli Madya BPS Kalimantan Tengah M. Taufiqurrahman menyampaikan perkembangan Indeks Harga Konsumen Kalimantan Tengah dalam rilis Berita Resmi Statistik di ruang Vicon Kantor BPS Kalteng, Palangka Raya.

PALANGKA RAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kalimantan Tengah mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) pada September 2026 mencapai 5,02 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 113,51. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya peningkatan harga berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Statistisi Ahli Madya BPS Kalimantan Tengah M. Taufiqurrahman menyampaikan perkembangan tersebut dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) periode September 2026 di ruang Vicon Kantor BPS Kalteng, Jalan Kapten Pierre Tendean Nomor 6, Kota Palangka Raya, Kamis (01/10/2026) siang.

“Pada September 2026, Kalimantan Tengah mengalami inflasi y-on-y sebesar 5,02 persen dengan IHK sebesar 113,51. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,40 persen, sedangkan secara tahun kalender mencapai 3,21 persen,” ujar M. Taufiqurrahman dalam pemaparan perkembangan IHK Kalimantan Tengah. Data BPS menunjukkan IHK meningkat dari 108,08 pada September 2025 menjadi 113,51 pada September 2026.

Taufiqurrahman menjelaskan, tekanan inflasi tahunan tersebut berasal dari kenaikan indeks pada seluruh kelompok pengeluaran. Kondisi itu memperlihatkan bahwa kenaikan harga tidak hanya terjadi pada satu kelompok kebutuhan, tetapi tersebar pada berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari makanan, transportasi, perumahan, kesehatan, pendidikan hingga perawatan pribadi dan jasa lainnya.

“Seluruh kelompok pengeluaran mengalami kenaikan secara tahunan, dengan tingkat perubahan yang berbeda-beda. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mencatat inflasi y-on-y sebesar 8,18 persen, makanan, minuman, dan tembakau 7,50 persen, serta transportasi 6,27 persen,” jelasnya. Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran mengalami inflasi 2,77 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga 2,66 persen, serta perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 2,54 persen.

Menurut Taufiqurrahman, perkembangan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu komponen penting dalam pembentukan inflasi September 2026. Kelompok tersebut mengalami inflasi y-on-y sebesar 7,50 persen dan memberikan andil 2,91 persen terhadap inflasi tahunan Kalimantan Tengah. Di dalam kelompok itu, subkelompok makanan mengalami inflasi paling tinggi sebesar 8,51 persen, disusul rokok dan tembakau 3,36 persen serta minuman yang tidak beralkohol 2,84 persen.

Baca Juga  Pemprov Kalteng Larang Sekolah Tahan Ijazah Siswa Lagi

“Beras menjadi komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi y-on-y, yaitu 0,87 persen. Komoditas lainnya yang juga memberikan andil antara lain emas perhiasan 0,42 persen, ikan nila 0,35 persen, bensin 0,33 persen, cabai rawit 0,20 persen, dan minyak goreng 0,17 persen,” katanya. Selain itu, bahan bakar rumah tangga dan ikan patin masing-masing memberikan andil 0,15 persen, terong 0,11 persen, serta solar 0,10 persen.

Pada kelompok transportasi, inflasi tahunan tercatat sebesar 6,27 persen dengan andil terhadap inflasi y-on-y sebesar 0,60 persen. Kenaikan tersebut terutama berkaitan dengan sejumlah komoditas transportasi, antara lain bensin yang memberikan andil 0,33 persen, solar 0,10 persen, dan pelumas atau oli mesin 0,08 persen. Meski demikian, secara bulanan kelompok transportasi justru memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen, terutama dipengaruhi penurunan tarif angkutan udara.

“Selain komoditas yang mengalami kenaikan harga, terdapat pula sejumlah komoditas yang memberikan andil deflasi secara tahunan. Daging ayam ras memberikan andil deflasi sebesar 0,15 persen, bawang merah 0,08 persen, sedangkan telur ayam ras dan bawang putih masing-masing 0,02 persen,” kata Taufiqurrahman. Komoditas lain yang turut memberikan andil deflasi y-on-y adalah angkutan udara, sekolah menengah pertama, rampela hati ayam, udang basah, sabun cair atau cuci piring, serta bakso mentah.

Dari sisi perkembangan bulanan, Kalimantan Tengah mengalami inflasi m-to-m sebesar 0,40 persen pada September 2026. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar dengan 0,32 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi bulanan antara lain ikan nila sebesar 0,08 persen, cabai rawit 0,07 persen, ketimun dan kacang panjang masing-masing 0,04 persen, serta beras 0,03 persen.

“Secara bulanan, kenaikan harga terutama tercermin pada sejumlah komoditas pangan dan kebutuhan rumah tangga, meskipun pada saat yang sama terdapat komoditas yang mengalami penurunan harga,” jelasnya. Pada September 2026, komoditas yang memberikan andil deflasi m-to-m antara lain daging ayam ras sebesar 0,12 persen, angkutan udara 0,05 persen, bawang merah 0,03 persen, ikan gabus 0,02 persen, serta bawang putih, anggur, dan minyak goreng masing-masing 0,01 persen.

Baca Juga  Dukung Pengembangan Ekonomi Lokal, Legislator Kalteng ini Minta Pemda Fokus Lakukan Pembangunan Infrastruktur

Perbedaan perkembangan harga juga terlihat antarwilayah penghitungan IHK di Kalimantan Tengah. Dari empat kabupaten/kota yang menjadi cakupan IHK, seluruhnya mengalami inflasi secara tahunan pada September 2026. Kabupaten Kapuas mencatat inflasi y-on-y tertinggi sebesar 6,00 persen dengan IHK 114,65, sedangkan inflasi y-on-y terendah tercatat di Sampit sebesar 4,21 persen dengan IHK 112,55. Kabupaten Sukamara mengalami inflasi 5,26 persen dan Kota Palangka Raya 4,73 persen.

“Seluruh kabupaten/kota yang menjadi cakupan IHK di Kalimantan Tengah juga mengalami inflasi secara bulanan. Sukamara mencatat inflasi m-to-m tertinggi sebesar 1,03 persen, sedangkan Kapuas menjadi wilayah dengan inflasi bulanan terendah, yaitu 0,08 persen,” jelas Taufiqurrahman. Dengan demikian, perkembangan harga pada September 2026 menunjukkan tekanan inflasi yang berlangsung di seluruh wilayah penghitungan IHK, meskipun tingkat perubahannya berbeda antarwilayah.

Secara keseluruhan, inflasi Kalimantan Tengah pada September 2026 sebesar 5,02 persen mencerminkan kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran, dengan makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu kelompok yang memberikan andil terbesar. Data tersebut juga menunjukkan adanya perbedaan tingkat inflasi antarwilayah serta dinamika harga komoditas yang turut memengaruhi perubahan IHK. Perkembangan tersebut menjadi gambaran kondisi harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat Kalimantan Tengah hingga September 2026. (Red/ADV).

Facebook Comments Box
+ posts