AKADEMIKAHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Pertahankan Kearifan Lokal, Tim Peneliti FEB UPR Kembangkan Kasai Bisa Mengikuti Kemajuan Digital

24
×

Pertahankan Kearifan Lokal, Tim Peneliti FEB UPR Kembangkan Kasai Bisa Mengikuti Kemajuan Digital

Sebarkan artikel ini
FOTO Ist.: Tim Peneliti FEB Universitas Palangka Raya bersama pengrajin saat melakukan observasi, pengembangan identitas visual, serta modernisasi kemasan produk Kasai Bisa.

PALANGKA RAYA – Tim Peneliti Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya (FEB UPR) mengembangkan strategi penguatan Kasai Bisa sebagai produk tradisional Dayak melalui konsep Pander Digital, penguatan identitas visual, cultural storytelling, serta modernisasi kemasan.

Upaya tersebut diarahkan agar Kasai Bisa mampu mengikuti perkembangan pasar dan menjangkau konsumen lebih luas tanpa kehilangan nilai budaya yang menjadi karakter utamanya.

Ketua Tim Peneliti FEB Universitas Palangka Raya, Iwan Christian, S.E., M.Si., mengatakan Kasai Bisa memiliki potensi yang tidak hanya berkaitan dengan nilai ekonomi, tetapi juga mengandung cerita, pengetahuan, dan identitas budaya Dayak yang dapat menjadi kekuatan dalam membangun citra produk. Penguatan tersebut dinilai penting agar produk tradisional tetap memiliki daya tarik sekaligus mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar masa kini.

FOTO Ist.: Tim Peneliti FEB Universitas Palangka Raya bersama pengrajin saat melakukan observasi, pengembangan identitas visual, serta modernisasi kemasan produk Kasai Bisa.

“Kasai Bisa tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa cerita, pengetahuan, dan identitas budaya Dayak yang dapat menjadi kekuatan dalam membangun branding produk,” kata Iwan Christian, baru-baru ini.

Menurut Iwan, konsep Pander Digital menjadi bagian penting dalam memperkenalkan cerita budaya yang melekat pada Kasai Bisa kepada masyarakat melalui media digital.

Pendekatan tersebut membuat kegiatan promosi tidak semata-mata berorientasi pada penjualan produk, tetapi juga memperkenalkan cerita budaya yang berada di balik keberadaan Kasai Bisa kepada calon konsumen.

“Melalui konsep Pander Digital, cerita budaya Kasai Bisa dapat diperkenalkan kepada masyarakat melalui media digital sehingga promosi tidak hanya menjual produk, tetapi juga menghadirkan cerita budaya di balik produk tersebut,” ujarnya.

Produk Olahan Kasai Bisa

Selain strategi digital, penelitian tersebut juga memberikan perhatian pada tampilan produk melalui penguatan identitas visual, label, dan pembaruan kemasan.

Modernisasi dilakukan dengan tetap mempertahankan karakter tradisional sehingga perubahan tampilan tidak menghilangkan identitas budaya yang melekat pada Kasai Bisa. Pendekatan ini diharapkan menjadikan produk lebih menarik sekaligus relevan dengan kebutuhan pasar saat ini.

 “Modernisasi kemasan diharapkan membuat Kasai Bisa lebih menarik dan relevan dengan pasar masa kini tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya,” tutur Iwan.

Baca Juga  Ahmad Rifai Dorong Seleksi Satpam Dilakukan Profesional dan Transparan

Iwan pun menuturkan Kegiatan penelitian ini diharapkan dapat memperkenalkan Kasai Bisa secara lebih luas kepada masyarakat sekaligus memperkuat citra produk sebagai salah satu produk lokal yang memiliki nilai budaya dan potensi ekonomi.

‘Pengembangan branding dan kemasan yang lebih modern diharapkan dapat membantu Kasai Bisa memiliki daya tarik pasar yang lebih kuat, tanpa menghilangkan identitas budaya Dayak yang menjadi ciri khasnya,”timpal Iwan.

Dengan demikian, sambung Iwan menambahkan, hasil penelitian diharapkan dapat mendukung keberlanjutan usaha para pengrajin Kasai Bisa, memperluas peluang pemasaran, serta memberikan nilai tambah ekonomi tidak hanya bagi komunitas perempuan Dayak tapi juga warga setempat yang menjalankan usaha tersebut.

Sementara itu,Anggota Tim Peneliti FEB Universitas Palangka Raya, Theresia Octaviani, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa proses penelitian dilakukan melalui observasi hingga ke sejumlah wilayah perdesaan.

Tim melihat secara langsung sumber bahan dan proses pembuatan Kasai Bisa, sekaligus menggali cerita, asal-usul, serta nilai budaya yang berkaitan dengan produk tersebut.

“Tim melakukan observasi hingga ke wilayah perdesaan untuk melihat sumber bahan dan proses pembuatan sekaligus menggali cerita, asal-usul, serta nilai budaya yang berkaitan dengan Kasai Bisa,” jelas Theresia.

Hasil penggalian tersebut kemudian menjadi bahan dalam menyusun pengembangan identitas visual, label, kemasan, dan storytelling Kasai Bisa. Dengan demikian, pembaruan produk tidak hanya diarahkan pada aspek tampilan, tetapi juga berupaya mempertahankan akar budaya Dayak yang menjadi bagian dari perjalanan dan karakter produk tradisional tersebut.

“Cerita dan nilai budaya tersebut menjadi inspirasi dalam pengembangan identitas visual, label, kemasan, dan storytelling Kasai Bisa, sehingga branding yang dibangun tetap memiliki akar budaya Dayak yang kuat,” katanya.

Penelitian yang dilaksanakan di Komplek Sosial Mendawai, Kota Palangka Raya, itu melibatkan 28 pengrajin Kasai Bisa. Selain berinteraksi dengan para pengrajin, tim melakukan survei awal, observasi lapangan, dan wawancara pendukung untuk memahami kondisi usaha, proses pembuatan, bahan yang digunakan, serta cerita dan nilai budaya yang melekat pada Kasai Bisa.

Baca Juga  Perlindungan Anak Jadi Prioritas, Pemko Palangka Raya Gelar Sosialisasi KTP dan KTA

Kunjungan lapangan juga dilakukan ke beberapa wilayah perdesaan untuk melihat secara langsung sumber bahan, proses pembuatan, serta konteks lokal Kasai Bisa. Dari rangkaian kegiatan tersebut, tim memperoleh bahan untuk mengembangkan cultural storytelling sebagai bagian dari Strategi Pander Digital, sehingga pesan yang disampaikan melalui pemasaran digital tetap berangkat dari cerita dan nilai budaya yang nyata.

“Dari kegiatan tersebut, tim menggali cerita, asal-usul, dan nilai budaya yang kemudian menjadi bagian penting dalam pengembangan cultural storytelling pada Strategi Pander Digital,” demikian penjelasan dalam bahan penelitian.

Pengembangan Kasai Bisa diharapkan tidak berhenti pada pembaruan kemasan dan strategi promosi, tetapi berlanjut pada penguatan posisi produk lokal di pasar yang lebih luas. Branding yang lebih kuat dan pemanfaatan media digital diharapkan membuka peluang perluasan pemasaran sekaligus memberikan nilai tambah ekonomi bagi para pengrajin.

 “Kasai Bisa diharapkan dapat berkembang menjadi produk lokal dengan branding yang lebih kuat dan kemasan yang lebih modern, sehingga mampu bersaing di pasar yang lebih luas, namun tetap menjadikan identitas, cerita, dan nilai budaya Dayak sebagai kekuatan utama produknya,” demikian arah penelitian tersebut.

Pada akhirnya, strategi Pander Digital yang dikembangkan Tim Peneliti FEB UPR menempatkan identitas budaya sebagai kekuatan utama dalam menjaga keberlanjutan usaha Kasai Bisa.

Penguatan pemasaran digital, modernisasi kemasan, dan pengembangan storytelling dipadukan dengan upaya mempertahankan cerita serta nilai budaya Dayak agar Kasai Bisa semakin dikenal, memiliki daya saing, memberikan manfaat ekonomi bagi pengrajin, dan tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. (Red/Adv)

Facebook Comments Box
+ posts