EKONOMI & BISNISHEADLINEPEMKOT PALANGKA RAYAPEMPROV KALIMANTAN TENGAH

Harga Solar Industri Melonjak Picu Antrean SPBU Mengular 

×

Harga Solar Industri Melonjak Picu Antrean SPBU Mengular 

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Antrian di SPBU

PALANGKA RAYA – Lonjakan harga solar industri yang mencapai kisaran Rp33.000 per liter menjadi pemicu utama antrean mengular (panjang,red) di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Palangka Raya dalam beberapa waktu terakhir.

Kondisi ini tidak hanya berdampak pada ketersediaan BBM di tingkat konsumen, tetapi juga memicu perubahan perilaku penggunaan bahan bakar, khususnya di sektor industri dan transportasi.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Tengah, Sutoyo, mengungkapkan bahwa harga solar industri saat ini memang mengalami lonjakan signifikan dibandingkan dengan BBM yang dijual di SPBU.

Ia menjelaskan, perbedaan harga yang cukup jauh menjadi faktor utama terjadinya pergeseran konsumsi di masyarakat.

“Dengan harga solar industri yang mencapai sekitar Rp33.000 per liter, sementara Pertamina Dex berada di kisaran Rp14.000 hingga Rp17.000 per liter, kondisi ini secara logis mendorong pelaku usaha dan transportasi untuk beralih menggunakan BBM yang lebih terjangkau,” ujarnya baru-baru ini.

Baca Juga  Mirza Adityaswara Ikut Mundur dari Jabatan Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK

Menurutnya, selisih harga yang tinggi tersebut tidak hanya mempengaruhi keputusan ekonomi pelaku usaha, tetapi juga berdampak langsung pada lonjakan permintaan BBM di SPBU dalam waktu singkat.

Peralihan konsumsi secara masif inilah yang kemudian menyebabkan antrean kendaraan terlihat mengular di berbagai titik pengisian BBM.

“Ini bukan karena stok berkurang, tetapi karena permintaan meningkat tajam akibat peralihan konsumsi,” jelas Sutoyo.

Ia menegaskan bahwa secara umum pasokan BBM masih dalam kondisi aman, namun distribusi menjadi tertekan akibat lonjakan kebutuhan yang tidak terduga.

Sutoyo juga menambahkan bahwa fenomena ini perlu disikapi secara komprehensif, mengingat perbedaan harga yang mencolok berpotensi terus mendorong pergeseran konsumsi jika tidak diantisipasi dengan kebijakan yang tepat.

Menurutnya, diperlukan langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan industri dan distribusi BBM subsidi maupun non-subsidi di SPBU.

Di sisi lain, pemerintah daerah terus melakukan koordinasi intensif dengan pihak Pertamina guna memastikan distribusi BBM tetap berjalan lancar dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat di lapangan.

Baca Juga  Wakil Ketua DPRD Kalteng Ajak Warga Dukung Program Ketahanan Pangan Nasional

Upaya tersebut juga mencakup pemantauan terhadap pola distribusi serta pengendalian agar tidak terjadi penyalahgunaan dalam penyaluran BBM.

Pemerintah berharap sinergi antara pemerintah dan Pertamina dapat menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengurangi antrean di SPBU yang meresahkan masyarakat.

Secara keseluruhan, lonjakan harga solar industri yang memicu peralihan konsumsi menjadi faktor utama terjadinya antrean panjang, sehingga diperlukan langkah penyesuaian kebijakan dan distribusi agar kondisi kembali stabil. (Red/Adv)

+ posts