PALANGKA RAYA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Tengah memperkuat pengembangan ekonomi daerah melalui komoditas unggulan buah naga dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Program Pengembangan Ekonomi Daerah (PED) Tahun 2026 yang digelar di Palangka Raya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari dukungan terhadap inisiatif Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam mengembangkan Kampung UMKM Buah Naga di Desa Misik, Kelurahan Kalampangan, yang telah diluncurkan pada Desember 2025. Selain itu, langkah ini juga merupakan implementasi mandat Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.
FGD tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, di antaranya perwakilan Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah, Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Kalimantan Tengah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Lembaga Jasa Keuangan (LJK), pelaku industri, serta calon offtaker.
Kehadiran berbagai pihak ini bertujuan memperkuat ekosistem usaha melalui integrasi hulu hingga hilir, peningkatan akses pembiayaan, serta perluasan pasar secara berkelanjutan.
Kampung UMKM Buah Naga di Desa Misik memiliki potensi besar sebagai sentra produksi. Saat ini, lahan tanam eksisting mencapai sekitar 150 hektare dan berpotensi dikembangkan hingga 300 hektare. Kegiatan ini melibatkan sekitar 120 petani dengan produktivitas mencapai 1.000 kilogram per hektare.
Dukungan pembiayaan dari Lembaga Jasa Keuangan juga terus menguat, dengan total penyaluran mencapai Rp6,6 miliar kepada para petani setempat. Nilai ini masih memiliki peluang untuk terus ditingkatkan seiring penguatan ekosistem usaha.
Di sisi hilir, Badan Gizi Nasional Regional Kalimantan Tengah menyatakan kesiapan untuk menyerap hasil produksi buah naga. Selain itu, sektor perhotelan juga menunjukkan komitmen dalam penggunaan produk lokal sebagai bagian dari implementasi kebijakan sektor pariwisata.
Kepala OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menegaskan bahwa keberhasilan program pengembangan ekonomi daerah sangat bergantung pada kekuatan ekosistem yang terintegrasi.
“Penetapan offtaker atau agregator yang kredibel menjadi langkah awal untuk menjamin kepastian pasar, yang diperkuat melalui perluasan akses business-to-business, serta didukung pembiayaan berkelanjutan dan sinergi lintas sektor agar program PED berjalan optimal, inklusif, dan mampu mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Primandanu, baru-baru ini.
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah yang diwakili oleh Asisten Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Darliansjah, menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekonomi daerah.
“Melalui kolaborasi lintas sektor dan penguatan peran sektor jasa keuangan, kita ingin memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang telah baik dapat ditransformasikan menjadi lebih inklusif, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” terang Darliansjah.
Kepala BGN Regional Kalimantan Tengah, Elisa Agustino, menyampaikan bahwa program SPPG memiliki peran strategis dalam mendukung ekonomi daerah sekaligus membuka peluang sebagai offtaker bagi hasil produksi petani lokal.
“Dengan kebutuhan bahan baku yang besar dan berkelanjutan, program ini membuka peluang luas bagi petani lokal untuk menjadi pemasok utama. BGN siap mendukung dan menyerap hasil panen petani, sehingga diperlukan penguatan koordinasi dan pemanfaatan potensi lokal secara optimal guna memastikan ketersediaan pasokan yang berkelanjutan,” jelas Elisa.
Dalam kegiatan tersebut, OJK Provinsi Kalimantan Tengah juga memaparkan program PED berbasis komoditas buah naga, yang dilengkapi dengan berbagi pengalaman petani terkait pengelolaan usaha, tantangan, serta peluang pengembangan ke depan.
Diskusi interaktif yang melibatkan OPD, LJK, pelaku industri, dan calon offtaker turut membahas dukungan konkret dari aspek pembiayaan, produksi, hingga kesiapan penyerapan hasil panen. Forum ini juga menjadi ruang penyelarasan peran antar pemangku kepentingan.
Sebagai hasil dari kegiatan tersebut, disepakati bahwa komoditas buah naga ditetapkan sebagai fokus utama Program PED Kalimantan Tengah Tahun 2026, dengan komitmen bersama untuk membangun ekosistem usaha yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Sinergi lintas sektor ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah, memperkuat daya saing daerah, serta memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Kalimantan Tengah. (Red/Adv)











