DPRD KALIMANTAN TENGAHHEADLINE

Air Bersih Mulai Menipis, DPRD Kalteng Dorong Infrastruktur Hadapi Kemarau

11
×

Air Bersih Mulai Menipis, DPRD Kalteng Dorong Infrastruktur Hadapi Kemarau

Sebarkan artikel ini
Anggota Komisi I DPRD Kalteng, Purdiono.

PALANGKA RAYA – Ancaman kekurangan air bersih mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kalteng seiring berlangsungnya musim kemarau panjang. Kondisi ini menjadi perhatian Anggota Komisi I DPRD Kalteng, Purdiono, yang menyoroti penurunan ketersediaan air di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito.

Kemarau tidak hanya menyebabkan debit Sungai Barito mengalami penyusutan, tetapi juga berdampak pada sejumlah anak sungai dan sumur milik warga. Bagi masyarakat yang masih mengandalkan sumber air alami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, kondisi ini dapat menyulitkan pemenuhan kebutuhan rumah tangga.

Purdiono menyebut persoalan air bersih perlu mendapat perhatian serius pemerintah, khususnya di wilayah yang mulai mengalami kekeringan. Barito Timur dan Barito Selatan menjadi dua daerah yang disebut menghadapi persoalan ketersediaan air akibat kondisi kemarau.

“Hal ini juga menjadi persoalan serius saat ini. Musim kemarau yang panjang menyebabkan krisis air bersih, khususnya di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito, seperti Barito Timur dan Barito Selatan,” kata Purdiono, Senin (21/9/2026).

Persoalan air bersih juga muncul dalam aspirasi masyarakat yang disampaikan kepada Purdiono ketika melaksanakan reses. Salah satu kebutuhan yang banyak disampaikan warga adalah pembangunan sumur bor sebagai alternatif untuk memperoleh sumber air.

“Berdasarkan hasil reses saya kemarin, aspirasi utama masyarakat adalah permohonan pembuatan sumur bor,” ujarnya.

Baca Juga  Aisyah Thisia Ajak Mahasiswa UT Palangka Raya Bangun Daya Saing Lewat Inovasi dan Budaya Lokal

Meski menjadi salah satu pilihan, Purdiono mengingatkan bahwa pembangunan sumur bor tidak otomatis menjamin tersedianya air dalam jumlah yang cukup. Kondisi tanah dan sumber air bawah permukaan setiap wilayah berbeda sehingga diperlukan kajian sebelum menentukan titik pengeboran.

“Namun, pembuatan sumur bor juga belum menjamin keluarnya sumber air,” katanya.

Selain langkah darurat, Purdiono mendorong pemerintah mulai memperkuat perencanaan penyediaan air bersih untuk kebutuhan jangka panjang. Infrastruktur yang dibangun diharapkan mampu memberikan manfaat tidak hanya bagi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung aktivitas masyarakat, termasuk pertanian.

Pembangunan fasilitas pengolahan air, embung maupun bendungan dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketersediaan air. Infrastruktur semacam itu juga dapat membantu menampung air ketika pasokan tersedia sehingga bisa dimanfaatkan saat memasuki periode kemarau.

“Jangan sampai penanganan hanya dilakukan ketika masyarakat sudah mengalami kesulitan mendapatkan air. Perlu ada persiapan dan pembangunan infrastruktur agar ketersediaan air bisa lebih terjamin,” kata Purdiono.

Di tengah kondisi kemarau, Pemprov Kalteng telah mengambil langkah dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat di sejumlah wilayah. Pada awal September 2026, distribusi air bersih dilakukan, termasuk ke Barito Timur dan Barito Selatan.

Penyaluran bantuan menjadi salah satu bentuk respons terhadap kebutuhan masyarakat selama sumber air mengalami penurunan.

Baca Juga  Program 100 Hari, Bantuan Sosial Disalurkan Bertahap

Namun, Purdiono berharap langkah itu dapat berjalan beriringan dengan program pembangunan infrastruktur sehingga persoalan air bersih tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Ia juga mendorong adanya pemetaan daerah yang rawan mengalami kekeringan. Data mengenai kondisi sumber air, kebutuhan masyarakat dan potensi wilayah dapat menjadi dasar dalam menentukan pembangunan sarana air bersih secara lebih tepat.

Dengan perencanaan yang matang, pemerintah diharapkan dapat menyiapkan kebutuhan air masyarakat sebelum memasuki puncak kemarau. Langkah antisipasi ini juga penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap distribusi air ketika sumber air warga mulai mengering.

Purdiono berharap persoalan air bersih menjadi bagian dari perhatian pembangunan daerah secara berkelanjutan. Ketersediaan air tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan sehari-hari masyarakat, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi dan produktivitas warga di berbagai sektor. (adv)

Facebook Comments Box
+ posts