EKONOMI & BISNISHEADLINENASIONAL

OJK Perkuat Ekosistem Pesantren Dukung Program Nasional Berkelanjutan

2
×

OJK Perkuat Ekosistem Pesantren Dukung Program Nasional Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

KEDIRI – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat ekosistem pesantren melalui peningkatan literasi serta perluasan akses keuangan syariah sebagai bagian dari dukungan terhadap program prioritas nasional. Upaya ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Forum Edukasi dan Temu Bisnis Keuangan Syariah (FEBIS) dan Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah (SAKINAH) di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.

Kegiatan tersebut melibatkan kolaborasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), serta diikuti ratusan santri dan pelaku usaha di lingkungan pesantren. Program ini menjadi langkah strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat berbasis pesantren.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK Dicky Kartikoyono menegaskan bahwa pesantren memiliki peran penting sebagai pusat pendidikan sekaligus penggerak ekonomi masyarakat.

“Program pemerintah saat ini tidak hanya berbicara mengenai kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk generasi ke depan. Ini merupakan sebuah kebersyukuran bagi kita semua ketika memiliki program yang berorientasi jangka panjang seperti ini,” ujar Dicky, baru-baru ini.

Ia menjelaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini. Selain itu, program tersebut membuka peluang ekonomi yang luas bagi masyarakat sekitar pesantren.

Menurut Dicky, berbagai sektor seperti pertanian, peternakan, perikanan, hingga perkebunan dapat terlibat dalam rantai pasok program tersebut. Keterlibatan masyarakat sebagai pemasok kebutuhan akan menciptakan perputaran ekonomi yang kuat di lingkungan pesantren.

Baca Juga  Wisuda Desember 2025, Universitas Palangka Raya Kukuhkan 621 Lulusan Baru

Lebih lanjut, OJK berperan tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai katalisator dan fasilitator yang mempercepat konektivitas antara pelaku usaha dengan lembaga jasa keuangan. Peran tersebut diwujudkan melalui program yang langsung menyentuh kebutuhan di lapangan, termasuk melalui kegiatan FEBIS.

Dalam kegiatan FEBIS, pelaku usaha diperkenalkan pada berbagai alternatif pembiayaan syariah dan dipertemukan langsung dengan lembaga jasa keuangan melalui skema business matching. Hal ini membuka peluang nyata bagi pelaku usaha untuk memperoleh akses pembiayaan sesuai kebutuhan.

Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Irjen Pol (Purn) Sony Sanjaya menyampaikan bahwa program MBG memiliki dampak luas bagi masyarakat, baik saat ini maupun di masa depan.

“Program ini menyasar kelompok rentan, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, serta peserta didik, termasuk para santri. Pemerintah ingin memastikan bahwa bahkan sejak dalam kandungan, generasi penerus bangsa sudah mendapatkan asupan gizi yang baik,” kata Sony.

Ia menambahkan bahwa program tersebut juga melibatkan jutaan relawan, khususnya dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, sehingga memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan serta menciptakan efek berganda bagi perekonomian.

Ketua Umum PBNU KH. Yahya Cholil Staquf turut menyatakan dukungannya terhadap program MBG yang dinilai fundamental dalam meningkatkan kualitas sumber daya santri di masa depan.

“Justru yang ingin kita lakukan adalah meningkatkan kualitas manusia seutuhnya yang dididik dan dihasilkan oleh pesantren. Manusia yang secara intelektual unggul, secara fisik insya Allah semakin unggul dengan program-program ini, dan tentu saja secara rohaniah akan tetap kita pertahankan agar tetap unggul,” tutur Gus Yahya.

Baca Juga  Pasar Murah Gratis Berikan Harapan Baru Pendidikan Generasi Muda

Selain itu, melalui kegiatan SAKINAH, OJK mendorong peningkatan literasi keuangan syariah bagi para santri dengan mengusung tema “Santri Sehat, Keuangan Kuat, Masa Depan Hebat”. Materi yang diberikan meliputi pengenalan produk dan layanan keuangan syariah, pengelolaan keuangan, hingga kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal.

Para santri diharapkan mampu memahami pentingnya pengelolaan keuangan yang sehat sekaligus menjaga kondisi fisik melalui pemenuhan gizi, sebagai bagian dari perencanaan kesejahteraan masa depan.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, juga dilakukan peresmian fasilitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) pesantren serta penandatanganan prasasti untuk 27 SPPG. Langkah ini menjadi bukti konkret sinergi antara sektor keuangan syariah dan ekonomi riil dalam memperkuat ekosistem pesantren.

Secara keseluruhan, kegiatan ini mencerminkan komitmen bersama antara pemerintah, regulator, industri jasa keuangan, dan masyarakat dalam membangun ekosistem pesantren yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. (Red/Adv)

+ posts